Kamis, 30 Juni 2011

Kartu Identitas

Sudah sejak lama saya menginginkan punya kartu identitas resmi. Kartu identitas yang menandakan keberadaan saya di dunia ini diakui. Di SMP 2 Purworejo-lah kesempatan pertama saya memperolehnya. Yaitu saat pembuatan kartu OSIS (waktu itu teman saya Eddy memberi tahu apa kepanjangan OSIS. Dari dialah pertama kali saya dengar bahwa OSIS adalah singkatan dari "Ojo Senggol Iki Susu").
Pas pembuatan Kartu OSIS saya antusias menyambutnya. Pasti keren sekali punya kartu identitas. Bisa dapat diskon kalo nonton di Bagelen Theatre lagi.
Tapi sayang sekali harapan saya tidak sesuai dengan khayalan. Setelah Kartu OSIS jadi, ternyata foto saya merem. Berkhayal mirip Rano Karno malah jadinya Herman Ngantuk.
Tapi untuk mengatasinya aku tidak kehabisan akal. Pada bagian matanya aku totol pakai tip-ex. Kemudian bagian tengahnya aku itemin pake spidol. Jadilah mataku melek. Walaupun kelihatan agak mendelik/melotot. Tapi gak papalah. Masih mendingan dari pada merem. Sayangnya Kartu Osis ini tidak dapat aku temukan. Keberadaannya tidak saya ketahui. Misterius ...
Aku memperoleh Kartu Osis kedua adalah waktu masuk SMA 1 Wonosobo. Gambar di bawah ini adalah asli kondisi fisik Kartu OSIS-ku waktu SMA. Memang fotonya aku ganti gambar aktor pujaanku. Tapi memang foto itu yang aku pakai waktu masih sekolah di SMA 1.
Anak lain yang Kartu OSIS-nya semacam ini adalah punya Hernawan. Tapi kalo foto dia diganti dengan gambar kucing hasil nggunting dari korek api. Menurut saya wajah kucing itu ternyata memang mirip sama tampang aslinya Hernawan. Orang yang melihat akan menyangka itu asli foto dirinya. Sama dengan foto Kartu OSIS-ku lah ...


Ini adalah Kartu OSIS-ku sesuai keadaan aslinya. Sebelumnya tidak ada fotonya lalu aku pasangi foto ini.


Ini Kartu Mahasiswaku


Ini adalah kartu identitas paling keren yang pernah aku miliki.

Horse Power


Italia terkenal dengan Ferrari-nya. Mobil sport ini memiliki mesin berkekuatan sekitar 500 tenaga kuda. Sayangnya kebanyakan mobil Ferrari hanya muat untuk 2 orang penumpang. Harganya sangat mahal. Boros bahan bakar.
Wonosobo juga tidak mau kalah. Kota dingin ini memproduksi beberapa macam kendaraan. Di antaranya adalah Dokar.
Kendaraan ini dilengkapi tenaga penggerak yang berkekuatan hanya  satu tenaga kuda. Tetapi kapasitasnya jauh lebih besar dari Ferrari. Dokar mampu mengangkut 8 orang penumpang sekaligus. Bahan bakarnya pun irit dan ramah lingkungan. Hanya rumput dan dedek. Kelebihan lain dari kendaraan jenis ini adalah bisa berkembang biak dan bertambah banyak.
Perbedaan utama di antara dua kendaraan ini adalah pada jenis polusinya. Polusi yang berasal dari Ferrari berbentuk uap/gas sedangkan polutan Dokar berbentuk padat.
Kendaraan lain produksi Wonosobo yang menggunakan satu tenaga kuda adalah jaran kepang/kuda lumping. Tetapi kendaraan ini kurang populer untuk bepergian. Karena pada saat diujicoba menempuh jarak 10 kilometer, para penumpang mengeluh malah merasa tambah kelelahan. Beberapa di antara mereka malah ada yang kesurupan. Oleh karena itu saat ini jaran kepang hanya dimanfaatkan untuk kepentingan kesenian saja.

SERBA ADA

Waktu aku SMA dulu, di daerah Kalierang ada orang kaya yang namanya Sarwono. Sarwono atau Sarwo Ono dalam Bahasa Indonesia berarti Serba Ada.
Mungkin itu maksudnya kenapa di tembok pagar depan rumahnya diberi tulisan besar "SERBA ADA".
Kalo penumpang angkot mau turun di situ mereka akan teriak:
"Serba ada kiri !!!"

Rabu, 29 Juni 2011

Lotere Ndog Cecek

Waktu SD ada tetanggaku yang membuka toko. Namanya Pak Rahmat (almarhum). Toko itu juga banyak menjual berbagai macam mainan anak-anak. Di antaranya adalah lotere ndog cecek (lotere telur cicak). Lotere ini berupa kupon kertas lintingan yang dibungkus dengan kertas berbentuk segitiga dan di dalamnya dikasih beberapa butir permen telur cicak. Jadi kalo yang lagi sial karena ga dapat hadiah dia masih bisa makan permennya. Lumayanlah buat obat kecewa.

Slogan-Slogan Inspiratif ...

  • Slogan-slogan yang biasa ada di angkutan-angkutan/bis di Wonosobo:

  • "RA SABAR MABURO"
  • = Kalau ga sabaran terbang saja (buat kendaraan yg gak sabar ngantri. Mbunyiin klakson melulu"

  • "MANGKAT SLAMET BALI NGLIWET. NGANTI DISALIP UANG KEMBALI"
  • = Berangkat selamat, pulangnya bisa buat menanak nasi. Kalau sampai bis ini ada yang nyalip, ongkos akan dikembalikan.

  • "NGUPOYO UPO"
  • = Mencari sesuap nasi.

  • "BALI TOUR WARAS"
  • = Kembali ke rumah dalam keadaan sehat wal afiat.

  • "PULANG MALU TAK PULANG RINDU"
  • = Pulang malu karena ga bawa duit, tapi kalo ga pulang kangen banget sama keluarga di rumah.

BBM Bersubsidi Haram ...


Sedjak ketjil doeloe mBah Kakoengkoe soedah mewanti-wanti bahwasannja BBM itoe haram hoekoemnja ...
..
Djika diminoem ...
 
Kalaoe soedah begini mati koetoelah saja.
Pemerintah kok beraninja wadoel sama Goesti Allah.
Tapi kepada siapa lagi akoe haroes manoet setelah mbah Kakoengkoe tiada ketjoeali sama fatwa oelama.
Baiklah. Karena jang bitjara adalah achlinja saja manoet.
Selamat tinggal premioem.
Selamat berdjoempa pertamax.
Semoga redjekikoe bertambah.
Insja Allah ...




Universitas WK

Ilmu-ilmu yang dipelajari di Universitas Wonosobo Kemekelen:
1. Gerontologi : Ilmu yang mempelajari teknik-teknik pembuatan jagung gerontol ...
2. Theologi : Ilmu yang mempelajari pembuatan dan cara penggunaan Theol ...

Gerontol: Makanan dari jagung rebus yang diberi parutan kelapa dan juruh (gula merah cair).
Theol: Alat angkut semacam gerobak yang didorong atau ditarik dengan tenaga manusia.

Bersambung ...

Selasa, 28 Juni 2011

Brutal ...

Sejak kecil saya sangat gemar baca komik. Salah satu komik yang paling berkesan buat saya adalah komik yang berjudul "BRUTAL" karangan Kus BR. Di situ dikisahkan gabungan jago-jago dalam negeri seperti Gundala Putra Petir, Godham, dan lain-lain bergabung dengan superhero asal luar negeri (Marvel) seperti Superman, Batman, Thor, Green Lantern dan lain-lain bertarung melawan dua raksasa ganas. Yang satu berbentuk raksasa botak bermata satu bertangan enam dan yang satunya berbentuk mirip werewolf tapi mempunyai sayap dan ekor yang besar. Gabungan jago-jago dunia itu keok. Tapi akhirnya mereka menemukan cara membunuh kedua raksasa itu, yaitu dengan cara diadu.

Kilat Khusus

Di Sarmili bila ada kiriman surat untuk para mahasiswa maka surat-surat itu akan dikumpulkan di satu kotak surat di sebuah kost-kostan yang terletak di sebelah masjid Al-Abror.
Para mahasiswa sehabis dari masjid biasanya mampir ke kotak surat itu untuk memeriksa barangkali ada surat untuk dirinya.
Waktu itu biaya untuk surat biasa adalah perangko 100 dan surat kilat adalah perangko 300. Sedangkan untuk surat kilat khusus/tercatat biayanya Rp. 1.000,-. Surat kilat khusus/tercatat ini cara mengirimnya juga khusus. Yaitu harus datang sendiri ke Kantor Pos. Di sana surat kita akan ditimbang dan dicatat. Selanjutanya kepada pengirim akan diberikan tanda terima berupa resi khusus.
Rupanya ada saudara dari salah satu mahasiswa yang tidak mengetahui prosedur ini. Jadi pada suatu saat pas aku melihati kotak pos itu aku dapati surat seperti ini:
Ada sebuah surat yang di amplopnya ditempeli tiga buah perangko 300 dan 1 buah perangko 100. Jadi nilai totalnya adalah 1000. Dan di bagian depan amplopnya dia tulisi sendiri dengan tulisan tangan yang besar dan tebal : "KILAT KHUSUS" ...

Senin, 27 Juni 2011

Peringkat Korupsi Indonesia & Singapura Seharusnya Sama


Sudah beberapa kali Singapura menduduki peringkat wahid sebagai negara paling bersih dari korupsi. Singapura bahkan mengungguli negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Sedangkan Indonesia sulit beranjak dari posisinya. Tetap mendapat predikat sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia.
Tetapi sebenarnya kita masih bisa mempertanyakan hal ini. Apa saja sich variabel-variabel yang digunakan oleh lembaga-lembaga pemeringkat korupsi? Sudah adilkah variabel-variabel yang digunakan? Apakah seluruh variabel yang seharusnya digunakan sudah diterapkan?
Baiklah. Harus diakui bahwa korupsi di Indonesia masih tinggi. Tetapi kami punya KPK yang punya niat untuk memberantas atau setidak-tidaknya mengurangi tindakan korupsi di Indonesia. Walaupun korupsi di Indonesia masih marak tetapi negara kami, Indonesia secara institusional punya niat untuk memberantasnya. Di antaranya dengan membentuk badan yang khusus untuk menangani tindak pidana korupsi, yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Tetapi lihatlah faktanya. Niat baik pemerintah Indonesia untuk memberantas korupsi tenyata sering mendapat halangan dari negara yang paling bersih di dunia, yaitu Singapura. Bagaimana koruptor di Indonesia akan takut dan kapok kalau Singapura menyediakan tempat yang aman buat mereka? Bagaimana peringkat bebas korupsi Indonesia akan meningkat jika Singapura memberikan tempat perlindungan yang aman bagi para pelaku tindak pidana korupsi dari Indonesia. Boleh dikata tindakan ini merupakan tindakan penuh kesadaran dari pemerintahan dari sebuah negara yang dinobatkan sebagai negara terbersih di dunia. Ibaratnya Singapura secara sadar menjadi penadah koruptor asal Indonesia.
Ini tercermin dari keengganan mereka untuk menandatangani perjanjian ekstradisi antara kedua negara. Mereka selalu menggunakan alasan yang dicari-cari. Bahkan mengajukan persyaratan yang tidak masuk akal seperti meminta wilayah untuk latihan perang/pangkalan militer di Indonesia. Ini tentu saja tidak bisa dikabulkan karena sudah melanggar kedaulatan sebuah negara.
Jadi agar penilaian lebih obyektif, variabel perlindungan terhadap koruptor seharusnya juga menjadi pertimbangan lembaga-lambaga yang membuat survey pemeringkatan negara-negara terkorup. Jika faktor penilaian yang satu ini dimasukkan, saya yakin peringkat Singapura sebagai negara paling bersih dari korupsi akan langsung terjun bebas. Kira-kira sejajar dengan Indonesia atau malahan lebih rendah lagi.
Karena biasanya hukuman bagi penadah hasil kejahatan akan lebih berat dari para pencurinya.

Bubur Indomie ...

Tingkat III aku kost di jalan Hiu bareng Asep, Wisnu sama Uki. Sekamar sama Asep. Waktu itu Asep membawa kompor listrik yang biasa digunakan untuk masak Indomie.
Suatu pagi aku bangun untuk sholat subuh di masjid An-Nur PJMI. Tapi pagi itu perutku terasa keroncongan. Lapar banget. Agar nantinya pulang dari masjid aku bisa langsung makan, aku akal-akal memasak indomie. Kuambil rantang, kuisi air. Indomie yang masih mentah aku masukkan, kompor aku hidupkan dan aku tinggal sholat subuh ke masjid. Aku berharap pulang dari masjid mie sudah matang dan siap dihidangkan.
Beberapa menit kemudian aku kembali ke kost-kostan. Cepat-cepat masuk ke kamar berharap segera menikmati mie rebus.
Dan ... Yang kudapati adalah sebuah pemandangan mengenaskan. Mie rebusnya sudah hancur lebur menjadi bubur berwarna kuning. Celakanya, bubur mie-nya pun lengket ke sendok dan rantang. Jadi aku tidak bisa lagi membuat mir rebus yang baru  karena rantang susah dibersihkan.
Dari situlah muncul peribahasa baru: "Apadaya ... Indomie sudah menjadi bubur ...".
Pagi itu aku kelaparan menunggu datangnya siang ...

Urus-urus ...

Suatu hari pas saya main ke rumah Ondhot, Wo Pawit (bapaknya Ondhot) pulang dengan membawa sesuatu yang menurut kami adalah coklat batangan. Beliau memakannya. Kelihatannya enak sekali. Kami berdua minta karena kepengen. Tetapi tidak dikasih. Pelit banget ! Pikir kami waktu itu.

Minggu, 26 Juni 2011

Jenang Saren



Jenang saren adalah jenang yang bercita-rasa sangat khas. Tidak semua anak/orang menyukainya. Rasanya yang pedas membuat orang-orang yang menyukainya menjadi ketagihan untuk mencicipinya lagi.
Ke-khasan jenang saren tidak melulu pada cita rasanya saja. Tetapi juga dalam hal bahan pewarna yang digunakan. Agar warnanya menjadi hitam elegan, pewarna yang digunakan adalah warna hitam dari perasan abu merang.
Warna hitam yang berasal dari abu merang dipadukan dengan siraman putihnya santan membuat warnanya begitu anggun dan menggugah selera.

Bahan:
  • 1/2 kg gr tepung ketan
  • 1 liter air
  • 1/2 ons abu merang, diayak hingga halus
  • 300 gr gula jawa
  • 4 cm jahe, memarkan
  • 5 butir cengkeh
  • daun pisang (untuk alas)
  • 1/2 liter santan dari 1 butir kelapa
  • 1 sendok teh garam
  • 2 lembar daun pandan
Cara membuat:
  • Cairkan tepung ketan dengan setengah bagian air, sisihkan.
  • Sisa air yang tinggal dipakai untuk mencairkan abu merang, lalu saring.
  • Ambil hasil saringan ubtuk pewarna dan buang ampasnya.
  • Didihkan cairan hasil saringan abu merang bersama gula jawa, jahe dan cengkeh, lalu tuangkan larutan tepung ketan ke dalamnya. Aduk sampai kental.
  • Masukkan ke dalam wadah yang sudah dialasi daun pisang dan diamkan sampai dingin dan mengeras.
  • Sebagai bumbu tambahan, masak santan, garam, dan daun pandan sekaligus sampai mendidih. Kecilkan api dan masak terus sampai santan kental dan berminyak,
  • Potong-potong kue yang sudah dingin sesuai selera.
  • Hidangkan dengan menuangkan santan di atasnya.

Sabtu, 25 Juni 2011

Pil Chiba ...

Suatu hari pas sakit diare waktu masih SD saya dibelikan obat diare oleh mbah Putri. Merk-nya Pil Chiba. Setelah aku minum dalam waktu beberapa jam saja sakit diare yang aku derita langsung sembuh. Aku tidak buang-buang air lagi dan sakit di perutku juga sudah hilang. Saya terkagum-kagum sama khasiat obat ini. Begitu cepatnya dia menyembuhkan penyakitku.

Kedatangan ...

"ABK dek siap muka belakang ... !!!"
"ABK dek siap muka belakang ... !!!"
"Kapal akan labuh sandar kiri ... !!!"
Suara dari pengeras suara terdengar nyaring. Menandakan kapal telah sampai ke tujuan. Perjalanan 26 jam yang cukup melelahkan akhirnya berakhir.
Aku tiba di kota Sampit. Kota yang akhirnya akan senantiasa menjadi kota yang penuh kenangan buatku. Kota yang sebelumnya hanya aku kenal dari permainan monopoli. Di monopoli ada kotak bertulis "STASIUN SAMPIT". Padahal di kota Sampit tidak ada kereta api, apalagi stasiun. Yang ada hanyalah lori pengangkut kayu. Ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa yang bikin permainan monopoli belum pernah datang ke Sampit.
Kota Sampit merupakan kota pelabuhan yang menggantungkan perekonomian pada industri kayu, rotan, kelapa sawit dan pertambangan.
Aku turun umpel-umpelan dengan penumpang kelas ekonomi lainnya. Sayangnya waktu tiba di Sampit adalah hari Minggu, jadi aku tidak bisa langsung bertemu teman-teman di kantor untuk minta tolong masalah penginapan. Jadi hari itu aku akan mendatangi famili tetangga saya di Sepuran yang sudah lama tinggal di kota ini. Tapi sebelum ke sana saya berinisiatif untuk mengunjungi kantor saya dulu agar pada hari Senin nanti saya tidak lagi bingung mencarinya.
Aku tanya sama seorang tukang becak:
"Kantor pajak di mana Pak ?"
"Oh Benyamin Theatre. Itu dekat ke sana ...".
"Terima kasih Pak ..."
Beberapa jauh berjalan saya bertanya lagi sama tukang ojek yang ada di perempatan jalan.
"Kantor pajak di mana Pak ?"
"Oh Benyamin Theatre. Ke depan belok kiri ...".
"Terima kasih Pak ..."
Daripada kesasar setelah berjalan beberapa puluh meter saya tanya lagi kepada seseorang yang ada di pinggir jalan.
"Kantor Pajak di mana Pak ... ?"
" Oh Benyamin Theatre. Itu sudah kelihatan atapnya ...", kata dia sambil menunjuk ke sebuah bangunan yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat saya berdiri.
"Terima kasih Pak ..."
Dari jawaban ketiga orang tadi saya jadi agak bingung kenapa mereka selalu menyebut-nyebut Benyamin Theatre. Analisa saya waktu itu begini: "Pasti Kantor Pelayanan Pajak Sampit terletak di sebelah atau di depan gedung bioskop Benyamin Theatre. Jadi untuk memudahkan mencarinya, orang-orang selalu menggunakan gedung bioskop itu sebagai ancer-ancer".
Sesampainya di bangunan yang ditunjuk orang tadi saya langsung terperangah ...
Alamak ... !!!
Rupanya KPP Sampit memang menyewa gedung yang sebelumnya adalah gedung bioskop Benyamin Theatre.
Tulisan Benyamin Theatre masih bisa terbaca dengan jelas.
Bahkan Bilyard sama Amusement Center yang ada di sebelahnya masih aktif ...

Jumat, 24 Juni 2011

PULAS

Gak mungkin lah orang Jakarta dengan kondisi tidur pulas bisa disuruh menggambar.
Tapi kalo orang  Wonosobo, dengan PULAS-pun, dia masih tetap bisa menggambar. Warna-warni lagi ...

PULAS = Bahasa Wonosobo yang artinya PENSIL WARNA.

Puncak Kenekatan ...

Hampir semua mata kuliah yang diberikan dosen masih bisa saya ikuti walaupun tanpa belajar (tentu saja dengan nilai ala kadarnya ...). Kalau ujian datang sesulit apapun soal yang diberikan saya masih bisa mengarang seadanya berdasarkan ingatan yang ada di otak.
Tetapi ada satu mata kuliah yang membuat saya mati kutu.
Yaitu mata kuliah TUPRP !!
Waktu itu dosen pengajarnya adalah Pak Maryoto. Pelajarannya adalah tentang membuat diagram alur dokumen semacam SOP. Menghadapi pelajaran yang satu ini, mahasiswa yang rajin belajar saja puyeng apalagi saya.
Pas tiba waktu ujian mata kuliah ini aku benar-benar tidak tahu mesti berbuat apa.
Tidak ada bayangan sama sekali.
Mulai dari mana?
Bagaimana caranya?
Kertas lembar jawaban mau diapain? Dan sebagainya.
Aku melihat hampir semua temenku sepertinya juga kebingungan menghadapi ujian kali ini. Mahasiswa yang terbiasa mampu mengerjakan soal nampak kebingungan.
Inilah yang justru menguntungkan saya. Keadaanya berbanding terbalik. Semakin mereka kelihatan resah dan bingung, semakin tenanglah hati saya. Rupanya pengalamanlah yang selama ini berhasil menempa mental saya. Keadaan krisis yang jarang mereka alami ini buat saya mah sudah jadi makanan sehari-hari.
Tapi saya lihat di lembar jawaban teman-teman walaupun mengarang masih ada isinya. Sedangkan lembar jawaban saya masih kosong. Seputih kapas sesuci salju. Mengarang saja tidak bisa. Sepertinya untuk pelajaran yang satu ini otakku buntu.
Waktu ujian habis. Banyak yang masih berusaha menulis sebisanya. Lembar jawaban saya masih kosong. Lagi-lagi aku harus menghadapi keadaan genting.
Aku mengambil langkah nekad. Dalam pertimbanganku kalau lembar jawaban aku kumpulkan maka akan ketahuan bahwa aku tidak bisa mengerjakan soal sama sekali. Ini alamat DO akan mengancam. Jadi akhirnya aku putuskan untuk tidak mengumpulkan lembar jawaban. Lembar jawaban aku kantongi, kubawa pulang dan aku robek-robek.
Saya berharap Pak Dosen berpikir bahwa lembar jawaban saya tercecer. Jadi masih ada peluang dosen berpikir bahwa sebenarnya saya bisa ngerjain soal tapi lembar jawabanku hilang. Menurut saya ini lebih menguntungkan daripada lembar jawaban dikumpulkan dan ketahuan dosen kalau aku gak bisa ngerjain soal. Pikirku kalaupun nantinya disuruh her ya ga papa lah. Toh aku sudah berpengalaman dengan yang satu ini.
Dan akhirnya perhitunganku tepat. Ternyata dosen bertindak seperti yang saya perkirakan. Saya mendapat nilai yang cukup untuk meneruskan kuliah.
Ini hanya masalah permainan pikran saja broer !! (Mind Game ...)
Tindakan saya ini ternyata mendahului peribahasa yang baru ngetop belakangan ini.
"LEBIH BAIK DIAM DAN DIKIRA BODOH DARIPADA NGOMONG TAPI BODOHNYA KETAHUAN...".

Sedikit Ilmiah ...

Ini ada beberapa istilah yang sering dipakai yang barangkali ada yang belum tahu artinya.
Moga-moga bisa nambah pengetahuan:
Kapal Ro-Ro adalah singkatan dari Roll On - Roll Off. Merupakan kapal yang ada pintu di bagian belakang atau depan kapal untuk memasukkan barang-barang langsung menggunakan kendaraan angkutan/trruk masuk ke dalam kapal melalui pintu penutup kapal yang berfungsi sebagai jembatan. Jenis kapal lain adalah kapal Lo-Lo. Singkatan dari Lift On-Lift Off. Kapal jenis ini menaikkan dan menurunkan bagasi menggunakan crane.
CDMA adalah singkatan dari Code Division Multiple Access
GSM adalah singkatan dari Global System for Mobil Communication.
QUO VADIS artinya adalah "Mau dibawa kemana ?".
UPS adalah singkatan dari Uninterruptible Power Supply. Merupakan peralatan elektronik yang fungsi utamanya adalah menyediakan listrik tambahan pada bagian tertentu dari komputer yang harus mendapat suplai listrik terus-menerus. Misalnya CPU dan monitor.
QUARTZ adalah jam tangan/arloji yang menggunakan tenaga baterei (bukan pegas/automatic).

Kamis, 23 Juni 2011

Yang Sok Tahu & Yang Lugu...

Waktu nonton siaran langsung bulutangkis di TV saya guyon sama teman-teman di kost-kostan. Menurut saya lebih enak bagi pemain yang bermain di bagian atas lapangan. Pengambilan gambar pertandingan bulutangkis di TV pada jaman dulu memang begini:
Pemain yang dekat kamera  membelakangi kamera sehingga kesannya ada di bawah.

Keberangkatan 2 ...

Sampai di Semarang aku naik ojek menuju penginapan. Penginapan itu sebenarnya lebih tepat disebut penampungan. Lha wong fasilitasnya cuma tikar mendong/tradisional yang digelar di lantai kok. Aku tidur ramai-ramai bareng calon penumpang lain. Mirip pengungsi di barak pengungsian.
Besoknya kami diantar menuju pelabuhan. Namanya juga pengalaman pertama. Waktu berebut naik kapal, jam tanganku yang merupakan hadiah dari Matahari Dept. Store dan ada lambang Matahari-nya raib dari pergelangan tanganku. Untungnya dompet sudah aku amankan di saku celana bagian dalam (bukan di celana dalam bagian saku lho ...).
Ternyata di dalam kapal, bagi penumpang kelas ekonomi ada acara rebutan kasur segala. Yang ternyata juga nanti ditarik uang sewa perkasur. Harganya waktu itu Rp. 2.000,-.
Setelah semua penumpang mendapat tempat terdengar pengumuman dari pengeras suara:
"TING TONG ..."
"Diumumkan kepada para pengantar, buruh-buruh bagasi dan para pedagang asongan agar segera meninggalkan kapal. Karena KM "Leuser" sebentar lagi akan diberangkatkan ...".
Suara kru dari pengeras suara terus diulang-ulang untuk memperingatkan agar tidak ada orang yang terbawa naik kapal.
"DOOOO...OOTTTT ...!!!"
Suara bel dari kapal terdengar nyaring tanda kapal akan berangkat.
Jam 08.00 pagi Kapal Motor "LEUSER" berangkat meninggalkan pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Aku tidak mau melepaskan pandanganku dari pantai. Terasa semakin lama aku semakin menjauh dari orang-orang terkasih dan kampung halaman tercinta. Kembali hati ini terasa sesak ... 
Karena ini adalah pengalaman pertamaku naik kapal jarak jauh (sebelumnya cuma naik fery nyeberang Selat Bali ...), maka aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk sepuas-puasnya memandangi lautan. Aku berusaha mengamati lautan siapa tahu saja akau dapat melihat ikan yang melintas.
Rupanya Tuhan berkenan menghiburku. Di tengah lautan aku sempat melihat seekor ikan terbang (mirip yang di Indosiar) berukuran besar terbang dan melintas di samping kapal. Dan itu adalah untuk pertama dan terakhir kalinya aku melihat ikan di lautan lepas. Semenjak itu, selama puluhan kali saya naik kapal bolak-balik Jawa-Kalimantan, tidak sekalipun aku melihat ikan lagi ...

Rabu, 22 Juni 2011

Keterbatasan Wawasan ...

Waktu masih SD apabila guru sedang menerangkan bahwa teropong bintang BOSCHA berada di kota Lembang, rata-rata murid sekelas mengira Bu Guru kurang wawasan. Maunya ngomong Palembang tapi cuma terucap Lembang.
Ada juga salah satu temanku di SD yang mengira bahwa nama Oto Iskandar Dinata itu salah. Seharusnya menurut dia tulisan yang benar adalah Foto Iskandar Dinata. Sehingga buku paket yang dia pinjam pada tulisan Oto Iskandar Dinata selalu dia tambahi huruf "F" dengan tulisan tangan dia ...

Keberangkatan ...

Akhirnya aku mengalami salah satu peristiwa paling memilukan dalam hidupku. Sungguh aku sampai menitikkan air mata saat untuk pertama kalinya aku akan berangkat ke kota Sampit. Aku memandang satu persatu mulai dari ibuku, nenekku, bapakku, adik-adikku, bulik-bulikku, paklik-paklikku, tetangga, rumah, jalanan kampung, dan lain-lain.Pokoknya semua yang selama ini selalu mengitari kehidupanku dalam suka maupun duka seakan-akan ikut melepas kepergianku.
Berat sekali langkahku waktu itu. Ingin rasanya aku melarikan diri dari tugasku. Tapi untunglah ada ibukku yang selalu menguatkanku. Nasehat dan petuah beliaulah yang membuat aku tetap berangkat melaksanakan pengabdianku kepada negara. Sesak rasanya dada ini saat Pak Oyo pamanku mengantarkanku menuju bis yang akan membawaku ke kota Semarang. Aku diantar beliau sampai ke kota Kertek.
Lagi-lagi aku merasa sedih waktu aku naik bis dan meninggalkan pamanku di trotoar pertigaan kota Kertek.. Beberapa lama di bis barulah aku mulai bisa mengendalikan perasaanku. Hati dan tekadku kembali kuat.
Baiklah Sampit ...
Aku datang !!!

Selasa, 21 Juni 2011

Mengalami Sendiri ...

Mungkin kebanyakan dari teman-teman hanya pernah mendengar atau membaca cerita lucu yang satu ini. Tetapi saya pernah mengalaminya dalam kejadian nyata.
Suatu hari pas saya masih tugas di Surabaya datanglah seorang klien yang marah-marah (namanya Pak Andi). Dia protes karena merasa bahwa terhadap dia tidak seharusnya dikenakan denda. Setelah ditanggapi sama rekan-rekan, amarahnya malah makin memuncak.
Nah ... Rupanya sudah saatnya aku menerapkan salah satu keahlian langka yang kumiliki:
Mengendalikan orang marah !
Orang itu saya panggil dan saya ajak bicara baik-baik. Saya jelaskan kepada dia segala sesuatu yang berhubungan dengan keluhannya. Akhirnya dia mau menerima penjelasan saya. Tetapi karena surat denda yang dibawa hanya fotokopian, maka saya bermaksud minta aslinya.
Saya: "Aslinya mana Pak ?"
Dia : Saya dari Bugis.
Saya: "???"
Saya lagi : "Maksud saya surat aslinya Pak.".
Dia: "Ada di rumah Pak."
Saya: "Oh kalau begitu mohon dibawa aslinya ya Pak, biar segera saya proses.".
Habis itu orang itu pulang. Kami yang di ruangan saling berpandangan ...
Rasanya aku sering mendengar cerita lucu seperti ini. Cuman biasanya pelakunya kalo ga orang Madura ya orang Tegal. Tak kusangka aku mengalaminya dalam kejadian nyata

Catatan:
Mohon maaf tidak ada maksud menyinggung suatu suku sama sekali.

Senin, 20 Juni 2011

The Incredible Ondhot - Minum Softdrink

Untuk berangkat menuju tempat tugas di Sampit, pada tahun 1995 hanya ada satu moda transportasi, yaitu kapal laut. Kapal yang melayani rute Semarang-Sampit adalah kapal motor PELNI "LEUSER". Jadwalnya 2 minggu sekali.
Waktu itu saya benar-benar masih buta sama sekali di mana dan bagaimana cara membeli tiketnya. Makanya waktu beli tiket ke Semarang saya tidak pergi sendirian. Saya mengajak saudara saya Ondhot. Setelah berputar-putar dan berganti angkutan beberapa kali akhirnya kami tiba di tempat penjualan tiket. Tiket terbeli dan hati tenang.
Untuk menghargai jasa-jasa Ondhot sekaligus refreshing sejenak, aku ajak dia jalan-jalan di kota Semarang. Kemudian kami mampir di Plaza Simpang Lima. Kebetulan di situ lagi ada pameran aquarium air laut. Saya dan Ondhot yang dasarnya adalah setan ikan memandang terkagum-kagum dengan noraknya.
Karena sudah jalan kaki kesana kemari dan tenggorokan sudah merasa kering sambil keluar plaza aku mampir ke counter yang jualan softdrink. Aku ga ingat merknya Pepsi apa Coca Cola. Seperti biasa kami dijuali dengan gelas styrofoam/kertas. Aku minum sambil jalan menuju jalan raya. Tapi aku heran kenapa Ondhot kok duduk terus dan ga mau ikuti aku.
Aku berpikir mungkin dia kecapekan jadi aku balik lagi ke counter itu nemani dia duduk. Tapi waktu aku sampai di situ ternyata minuman dia baru saja habis.
Dan apa yang dia lakukan coba?
Dia kembalikan gelas styrofoam/kertas itu ke penjualnya. Aku baru sadar ternyata dia duduk terus ga mau ikut aku karena mau ngembalikan gelas minumannya.
Aku malu banget sama mbak penjualnya.
Bagaimanapun aku lebih kota dari Ondhot kan ?

Jugador ...

Waktu kantor saya masih di jalan Kartini, ada warteg yang sebenarnya merupakan warteg lama tetapi karena diakuisisi oleh warteg saingannya maka warteg itu sekarang dikelola oleh manajemen baru. Sebenarnya masakannya enak. Cukup menyegarkan dibanding warung-warung yang sudah ada.
Sayangnya bapaknya yang jualan kalo ngitung harga seenaknya. Harga-harga menu di sini kadang-kadang bisa melebihi kantor pusatnya di ujung gang. Teman saya Kokoh paling rajin protes sama harganya. Saya sendiri menyebut bapak penjual warteg itu dengan sebutan Jugador (Bahasa Spanyol-nya para penyerang sepakbola yang jago menembak bola ke gawang) karena hobinya menembak harga.
Karena seringnya protes dan demo yang dilakukan oleh teman-teman kantor, warteg itupun akhirnya menerapkan harga yang wajar. Yaitu harga mana yang lebih rendah dari nilai buku atau harga di pasaran.
Di samping julukan The Jugador warteg itu juga mendapat sebutan Gang Gang Sulai. Julukan yang kedua diberikan karena sebagai penutup dapurnya, warteg ini menggunakan spanduk bekas dari Restoran Korea Gang Gang Sulai.
Banyak sosialita & jetset menjadi pengunjung tetap di warteg itu. Beberapa di antaranya adalah anggota klub-klub tenar. Ada yang dari klub "The SADI'S"  (Shanty, Amel, Debby & Izzah), WAK'S (Widayat, Amin & Kokoh), KD (Ketut & Daniel), dan lain-lain ...

Minggu, 19 Juni 2011

Ini cerita Pop Mie-ku, mana cerita Pop Mie-mu ...

Sebagai salah satu acara sebelum berpisah untuk menuju ke tempat tugas masing-masing di seluruh penjuru tanah air, kami, dalam hal ini: Saya, Agus, Duto, Asep, Herjanto, Luthfil, Endriyana (Bayer), Anang Desti, Abdulah Sukri (Uki) mengadakan farewell party. Kami bersembilan pergi ke Dufan. Kayaknya sich karena ada diskon 50% dapat dari nonton pameran di Masjid Istiqlal sebelumnya (Saya, Agus sama Herjanto, di samping membidani kelahiran MLM  di Indonesia melalui AMWAY, juga membidani lahirnya minuman coffee creamer Indocafe lho. Waktu di Istiqlal kami masih dapat gratisan untuk produk perkenalan).
Hari itu kami mati-matian memanfaatkan fasilitas itu. Berangkat pagi baru keluar dari arena jam 09.00 malam. Penerapan nyata dan sempurna untuk pertama kali dari ilmu ekonomi yang kami pelajari selama 3 tahun di kampus. Waktu mau pulang kami merasa lapar. Agar lebih aksi kami mau makan sekalian di situ. Sebenarnya ada bakso, tapi karena takut mahal kami akhirnya beli makanan yang jelas tercantum harganya saja, yaitu Pop Mie.
Di situlah saya pertama kali berkenalan dengan produk ini. Saya masuk barisan antrian untuk membelinya. Tiba giliran saya. Saya menunggu dibuatkan. Setelah selesai gelas pop mie saya terima. Waktu saya pegang ternyata gelas pop mie-nya tidak panas. Cuma agak hangat sedikit. Makanya karena sudah lapar, sambil menunggu kembalian uang, pop mie itu langsung kuminum.
Dan nyoasss !!! Lidah dan bibir saya langsung serasa terbakar. Airnya ternyata panas sekali. Tapi karena gengsi sama mbaknya dan pembeli lain yang ada di situ, airnya tetap aku tahan di mulut. Setelah menerima uang kembalian buru-buru saya mencari tempat gelap. Disitulah baru aku semprotkan air panas yang membakar mulutku.
Poaahh !!! Poaahh !!! Seminggu setelah peristiwa itu, lidah dan mulut saya masih terasa mati rasa.
Saya tidak tahu apa ada teman-teman lain yang mengalami kejadian seperti yang aku alami.
Tapi saya curiga mbak penjualnya menahan tawa melihat tampangku saat menahan panas tadi.

Kesel

Betapa lembutnya orang-orang dari kota pegunungan ini ...
Kalo orang Jakarta lagi kesel, biasanya mereka marah-marah ...
Tapi kalo orang Wonosobo lagi kesel, paling-paling mereka istirahat. Atau paling banter pijetan ...

Kesel = Bahasa Wonosobo yang artinya capek/lelah ...

Jumat, 17 Juni 2011

Farewell

Malam harinya  perkemahan SMP 2 Purworejo yang saya ikuti diadakan acara pentas seni. Waktu itu reguku mementaskan lawak. Yang menjadi pemainnya waktu itu adalah saya, Fajar, Paryono dan satu orang lagi saya lupa. Salah satu lawakan yang masih kuingat adalah ketika Paryono yang berperan sebagai guru bertanya kepada murid-muridnya yang diperankan 3 orang lainnya.

Mendoan

Dalam proses perjalanan mendaftar di STAN saya sempat menginap beberapa lama di kost-kost-an Herdiyanto bersama Komari. Seperti sudah kita ketahui bersama, makanan paling terkenal dari Purwokerto adalah mendoan. Melihat wujudnya yang mirip tempe goreng tepung mentah itu, aku sama sekali tidak tertarik untuk mencicipinya. Sudah dibilangin sama Herdiyanto kalo mendoan itu enak saya tetep tidak percaya.
Suatu malam kami bertiga keluar untuk makan bersama. Kami makan di warung yang ada penjual mendoannya. Katanya di situ mendoannya terkenal enak, karena selalu dihidangkan dalam keadaan panas. Saya sich nurut saja. Biar mereka lega.
Sambil duduk mereka makan mendoan. Akupun akhirnya penasaran dan iseng-iseng ikut mencicipi. Mencicipi lagi ... lagi ... dan lagi ...
Pada waktu yang lain pesen nasi saya ga ikutan makan karena merasa sudah kenyang.
Setelah selesai makan penjualnya menghitung. Kami ditanya satu persatu.
Pas giliranku dia nanya gini:
"Mendoannya habis berapa Mas ?"
"Dewapang .." Jawabku.
Maksudnya aku mau ngomong "delapan" tapi sambil ngunyah mendoan panas jadi keluarnya "dewapang".
Sejak itulah aku menjadi penggemar berat mendoan.
Makanan yang sebelumnya kehadirannya aku lecehkan ...

Tanjungsari - 2

Sore-sore waktu berkemah di Tanjungsari di waktu senggang kadang-kadang kami menyempatkan diri jalan-jalan di sawah-sawah yang ada di sekitar lokasi.
Ada satu kejadian cukup mengenaskan waktu jalan-jalan sore. Salah satu teman yang tidak bisa kami sebutkan namanya (yang jelas bukan regu saya) tiba-tiba kebelet buang air besar. Tanpa lihat-lihat dia langsung buka celana dan langsung buang hajat di parit yang ada di situ. Rupanya dia tidak tahu kalo di bagian ujung parit itu digunakan sebagai tempat pencucian mobil. Baru beberapa menit setelah dia jongkok ada orang teriak marah-marah.
"Hai jangan berak disitu !!!"
Teman-teman lari semua. Diapun sudah diajak lari, tapi ga tahu kenapa dia malah menyerahkan diri. Akibatnya sebagai hukuman dia disuruh mengambil dan membuang kotorannya sendiri menggunakan ember yang dipinjami para pencuci mobil. Dia ambili satu persatu dan dibuangnya kesawah-sawah di sekitarnya.
Duh ... Jatuhlah wibawa kami. Keren-keren berseragam pramuka malah ada teman yang dihukum harus ngambili kotorannya sendiri ...

Kamis, 16 Juni 2011

Test Narkoba

Masih mahasiswa yang bukan perokok tadi. Rupanya dia memang tipe mahasiswa yang digandrungi sama masalah. Selesai tes kesehatan paru-paru selanjutnya dia dites masalah narkoba.Dalam tes ini diwajibkan melepas semua pakaian kecuali cd/pakaian dalam.
Anak ini kelihatan grogi banget. Sampai keringetan. Mungkin petugas menjadi curiga. Rupanya disinilah letak permasalahan kenapa dia begitu grogi dan ketakutan.
Ternyata bukan karena takut ketahuan di badan atau lengan terdapat jejak-jejak pemakaian narkoba, tetapi karena celana dalam dia sudah rusak parah. Sudah bulukan, jamuran dan berlubang-lubang di sana-sini. Super jelek dech pokoknya.
Jadi begitu dia disuruh berdiri dengan hanya mengenakan celana dalam, mukanya langsung tersipu-sipu malu.

Test Kesehatan

Selain SKKB ada juga test lainnya. Yaitu test kesehatan dan narkoba. Kali ini saya tidak mengalami kejadian yang unik. Tetapi mahasiswa lain yang mengalaminya.
Pas penelitian tentang kesehatan paru-paru mahasiswa yang lagi ditest sebenarnya tidak merokok tetapi akhirnya tertulis merokok di formulirnya.
Kronologi pas testnya begini:
P: "Kamu merokok ya ?".
M: "Tidak Pak.".
P: "Ah tidak mungkin. Dari bibirmu saja saya tahu kalau kamu itu perokok.".
M: "Benar Pak. Saya sama sekali tidak merokok.".
P: "Kamu jangan mengelak. Saya tahu ciri-ciri perokok.".
Daripada ribet akhirnya mahasiswanya mengalah:
M: "Ya dech Pak. Saya merokok.".
P: "Nha kan. Kamu memang perokok.".
Akhirnya di formulir diisi bahwa dia adalah perokok.
Padahal dia sebenarnya memang bukan perokok. Bingung kan ???

Cari SKKB - 2

Setelah keluar ke ruang tamu lagi saya disuruh ngisi formulir untuk bikin SKKB. Salah satu kolom yang harus diisi adalah kolom hobi. Untuk memastikan kebenaran pengisiannya, saya berinisiatif menanyakan terlebih dahulu sama Pak Polisi.
"Kolom hobi ini diisi apa Pak ?".
"Ya diisi saja apa kegiatan yang paling kamu sukai."
"Gitu ya Pak. Terima kasih".
Selesai kuisi formulir kukembalikan ke Pak Polisi. Setelah membacanya Pak Polisi kelihatan agak marah dan berkata sama aku:
"Hobi kok diisinya tidur. Hobi macam apa ini !!!"
"Tadi kata Bapak saya disuruh ngisi kegiatan yang paling saya sukai.".
"Iya. Tapi yang positip. Yang bermanfaat. Misalnya olahraga atau kesenian!!!".
"Jangan diisi tidur. Hobi kok tidur !!!".
"Oh iya Pak maaf. Kalo gitu saya isi membaca saja ya Pak.".
"Nah gitu. Itu baru namanya hobi.", kata Pak Polisi mengakhiri pembicaraan.
Akhirnya selesai dan aku mendapatkan SKKB.

Pesek-Pesekan ...

Suatu saat saya sedang sholat sendirian di musholla kantor. Waktu itu saya masih tugas di Sampit, Kalimantan Tengah. Di belakangku ada tiga karyawati yang sudah selesai sholat. Mereka adalah Yani, Yuli sama Elsye. Sambil memberesi mukena dan sajadah mereka bertiga omong-omongan begini:
Yani : "Hidungku kok pesek ya dibanding kalian.".
Elsye : "Masih lumayan hidungmu dibanding hidungku. Hidungku pesek banget nich."
Yuli: "Ah ... Paling pesek ya hidungku. Hidung mbak Yani sama mbak Elsye masih lumayan dibanding hidungku.".
Begitu seterusnya mereka bertiga ngomongin hidung mereka. Pada prinsipnya masing-masing dari mereka meyakini bahwa hidungnyalah yang paling pesek.
Aku yang lagi sholat jadi terganggu konsentrasiku. Jadi kurang khusuk. Untungnya mereka selesai memberesi mukena sama sajadah dan segera kembali ke ruang sekretaris.
Setelah selesai sholat dan berdoa, aku yang masih menyimpan dendam karena terganggu konsentrasiku segera mencari mereka bertiga. Untungnya mereka bertiga sedang ngumpul di ruang sekretaris.
Saat itu juga dengan lantang kepada mereka aku katakan :
"Baiklah saya akui. Hidung kalian bertiga memang paling pesek !!!".

Buat Yani, Yuli sama Elsye: Sampai sekarangpun aku masih mengakui bahwa hidung kalian bertiga memang benar-benar pesek ...

Mauludan ...

Waktu kecil saya pernah ikut acara Maulid Nabi di mushola tempat saya biasa mengaji di Sidodadi. Kalo ada acara Mauludan berarti ada pembagian takir/berkat/nasi kotak (nasi yang dikemas menggunkan besek. Semacam wadah dari bambu. Sekarang banyak dimanfaatkan untuk wadah tape. Sedangkan takir yang kemasannya menggunakan daun biasa kami sebut koplok ijo).

Rabu, 15 Juni 2011

Cari SKKB

Sebagai persyaratan untuk masuk STAN, salah satunya adalah harus memiliki Surat Keterangan Kelakuan Baik dari kepolisian. Akupun mencarinya di POLSEK Sapuran.
Pas aku mau bikin SKKB, ternyata di dalam ruang tamu kantor polisi sudah ada teman sekelasku waktu SD. Namanya Hamek (sebenarnya nama aslinya Hamid Rifai). Nampaknya dia sudah nunggu lama di situ. Saya tidak tahu ada urusan apa dia datang ke kantor polisi. Karena waktu SD kami memang teman akrab makanya kami langsung ngobrol dengan serunya.  Beberapa waktu kami ngobrol ada polisi yang datang dan dengan agak keras menyuruh kami masuk ke ruang interogasi. Kami berdua disuruh duduk berjejer di depan meja polisi tadi.
Dengan nada keras polisi tadi bertanya:
Pak Polisi: "Kenapa kalian berdua sampai berkelahi !!!".
Aku jadi heran dan gak mudeng sama pertanyaan Pak Polisi tadi.
Buru-buru Hamek bilang sama polisinya:
Hamek: "Maaf Pak. Dia bukan musuh saya. Dia teman saya.".
Pak Polisi: "Lha kamu ada urusan apa datang ke sini ?"
Saya: "Saya mau cari SKKB Pak".
Pak Polisi: "Ya sudah. Kamu keluar sana.". Sepertinya polisi tadi agak malu juga.
Rupanya temanku tadi dipanggil polisi gara-gara kasus perkelahian. Musuhnya belum datang juga. Jadi aku tadi dikira musuhnya.
Aah .. Pak Polisi ...
Masak ada orang habis berkelahi bisa ngobrol seru gitu ...

FORSUWAN ...

Suatu hari anaknya ibu kost-ku minggat dari rumah. Di cermin tiolet kamarnya (kamarnya berhadapan dengan kamarku) ada tulisan dari bedak Herocyn yang isinya begini:
" GUE KAGAK MAU PULANG SEBELUM GUE DIBELIIN FORSUWAN".
Pertamanya aku bingung mencerna tulisan ini. Tetapi setelah menganalisis dengan kejadian-kejadian sebelumnya baru aku tahu maksudnya. FORSUWAN ini maksudnya adalah YAMAHA FORCE ONE. Waktu itu emang lagi ngetop-ngetopnya.
Tapi akhirnya tidak dibelikan. Pertimbangannya mungkin karena ibunya tidak mau nasib dia sama dengan nasib kakaknya yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas menggunakan motor ...

Kependekan Siklus ...

Suatu hari bapak kost sebelah mengadakan acara bakar-bakar lele bersama. Anak yang kost tempat dia gratis. Kalo anak yang kost ditempat lain bisa ikutan asal bayar per lele Rp. 500,-. Aku, Agus sama Herjanto ikutan. Tapi salah satu kakak kelas kami waktu itu, namanya Eka tidak mau ikut.
"Gue ga mau ikutan. Siklus rantai makanannya terlalu pendek !" katanya.
Setelah dia ngomong gitu, rasanya lele bakar yang aku makan rasanya jadi aneh juga. Tapi sudah tanggung. Jadinya tetap saja lele bakar itu kami habiskan.
Padahal kalo dipikir lele yang dibakar waktu itu memang lele yang berasal dari empang yang di atasnya ada jamban tempat keluarga kost-kostan sebelah rumah buang hajat.
Jadi kalo siklus jaring-jaring makanan yang seharusnya adalah :
Bakteri - Cacing - Lele - Manusia - Bakteri -Cacing - Lele - Manusia - dst ...,
maka di empang itu siklusnya cuma menjadi :
Manusia - Lele - Manusia - Lele - Manusia - Lele - dst ...

Komplit Bener ...

Waktu kuliah tingkat I (1992), saya pergi ke Senen untuk beli buku.
Jaman itu lagi ngetop-ngetopnya stensilan jorok mahakarya Enny Arrow.
Turun dari Metromini saya langsung disamperin seorang penjual.
“Bang, stensilan Bang !” katanya sambil nunjukin setumpuk buku porno yang dijepit majalah.
Aku : “Maaf Mas, saya cari Al-Quran .”.
Dia: “Oh .. Al-Quran ? Ada. Ini  20 ribu.” , katanya sambil menjulungkan Al-Quran ke aku.
Aku: “ ???” (Mlongo … )

Selasa, 14 Juni 2011

KWK



Tetaplah waspada !
Orang-orang tukang ngapusi berkeliaran di sekeliling Anda !
Mereka telaten sekali berusaha ngapusi Anda.
Mereka tidak akan berhenti sebelum Anda kapusan ...

Indomie Goreng Kuah

Suatu malam beberapa teman berkunjung ke tempat kostku. Kalo ga salah mereka adalah Asep sama Agus. Hari itu aku bermaksud menjamu mereka dengan hidangan spesial nan istimewa. Yaitu Indomie goreng. Memang persediaan di gudang Indomie-ku waktu itu lagi banyak-banyaknya. Sebagai tuan rumah aku akan sekalian memasakkan saja mie goreng itu buat mereka. Di kalangan teman-teman, aku memang tergolong super chef-nya.
Tapi malam itu Luthfil ngotot (dia adalah teman sekost-ku lain kamar). Dia bersikeras memasakkan mie-nya buat kami. Ya sudah. Kami bertiga mengalah. Walaupun dalam hati kami terbersit rasa kalut dan khawatir.
Apalagi setelah melihat cara dia memasaknya. Bumbu mie goreng dia campur dengan air kemudian mie-nya dimasukkan. Persis seperti membuat mie rebus. Kami sudah mempertanyakan tehnik dia memasak mie goreng. Tapi dia tetap percaya diri bahwa mie-nya rasanya akan enak. Setelah selesai memasak mie gorengnya dibagi.
Dan benar saja. Mie goreng spesial kami kehilangan spe-nya jadi mie goreng sial. Rasanya hambar (kalo ga percaya coba dech ...).
Asep-lah yang paling rajin mengkomplain peristiwa ini.
Beberapa kali ketemu Luthfil masih saja dia bilang:
"Hiyaa ... Mie goreng pake kuah ...".
Luthfil-pun tersipu-sipu ...

Jurassic Park

Tidak sepenuhnya warteg langgananku waktu tingkat II melulu menyuguhkan cerita sendu semacam lele raksasa. Ada juga cerita ceria yang dimulai dari sana.
Suatu siang sehabis Jum'atan saya beli nasi bungkus di warteg itu. Kebetulan waktu itu aku beli nasi bungkusnya sendirian. Jalur perjalanan pulang dari warteg ke kost-kost-an merupakan track menanjak melewati kebun. Saat melintas di kebun itu mataku menangkap pemandangan yang menakjubkan. Sebuah benda berbentuk bulat, berukuran cukup besar berwarna putih mengkilat ditimpa teriknya sinar mentari siang tergeletak di tengah jalan. Setelah dekat dan jelas kemudian aku berhasil mendeteksi bahwa benda itu adalah "OVUM CYGNUS OLOR".  Bagi anda yang kurang menguasai Bahasa Latin itu artinya adalah "NDOG BANYAK". Bagi anda yang kurang mengerti Bahasa Jawa itu artinya adalah "TELUR ANGSA PUTIH".
Langsung saja saya ambil. Takut keinjek dan pecah (terutama takut keduluan orang lain ...). Telur kubawa pulang. Aku tunjukkan ke teman-teman kost-ku. Setelah mereka puas memegang-megang kemudian telur itu aku goreng. Aku tidak ingat telur goreng ini aku makan sendiri atau aku bagi-bagi. Waktu mengambil isi telurnya, cangkangnya tidak aku pecahkan tetapi aku lubangi menggunakan silet. Jadi lubangnya rapi. Setelah itu cangkang kucuci dan kukeringkan. Habis itu cangkang kuisi dengan kapas dan lubangnya kututup lagi sehingga bentuknya kembali utuh seperti semula. Telur itu aku namai "TELUR JURASSIC PARK".
Temanku Luthfil senang sekali meminjam dan memain-mainkannya. Tapi sayang saya tidak tahu lagi perihal keberadaan telur ini ...

Senin, 13 Juni 2011

Salah Kostum

Suatu hari saya dititipi istri untuk membelikan wajan teflon di Pasar Baru. Lokasinya dekat dengan tempat saya bekerja. Siangnya pada jam istirahat sambil makan siang saya menuju Pasar Baru. Hari itu hari Senin. Pada hari Senin kantor kami mewajibkan karyawannya berpakaian hitam putih.
Masuk toko saya langsung menuju ke bagian wajan teflon. Saya memilih-milih ukuran yang sesuai dengan pesanan istriku. Waktu itu aku baru sadar ternyata pakaian seragam semua karyawan pada hari itu adalah hitam putih. Sama dengan pakaianku waktu itu.  Wah ... Gawat nich ... Nampaknya insiden tinggal menunggu waktu saja ...
Aku segera mempercepat memilih barang yang kucari. Tapi yang kucemaskan segera terjadi. Dari belakangku seorang ibu-ibu berkata begini:
"Mas, wajan teflon yang ukuran 24 cm mana ya ?"
Wah terlanjur dalam hatiku. Daripada ibu itu malu aku ambilin saja barang yang dia cari.
"Harganya berapa ?"
"124 ribu." jawabku (ada label harganya kok ya masih nanya).
Ibu itu pergi membawa wajan itu ke kasir dan membayarnya.
Baru saja aku mau pergi, eehh ... Ada ibu-ibu nanya wajan teflon lagi. Kepalang tanggung dah. Aku layanin sekalian ibu yang kedua. Aku ambilin wajan teflon pilihan dia. Setelah dia pergi aku buru-buru menuju kasir dan membayar barang yang kubeli. Aku takut ada ibu-ibu berikutnya yang meminta pelayananku lagi.
Aku tidak tahu apa waktu itu ada pelayan toko asli yang lihat kelakuanku.
Kalo lihat perasaan mereka gimana ya ? Kagum apa ngejek ...

Akses ...

Waktu saya mendaftarkan anak saya sekolah, terjadi gangguan layanan internet.
Saya pikir waktu itu server drop karena beban yang terlalu besar. Tetapi ternyata kemudian baru diketahui bahwa itu adalah ulah para hacker.
Saat menunggu internet berfungsi kembali saya dengar ada ibu-ibu yang menerangkan sama teman-teman di sebelahnya:
" Internetnya tidak bisa di ASKES, internetnya tidak bisa di ASKES ...".


Maaf ya Bu. Saya tidak tahan untuk tidak menceritakan peristiwa ini ...

Terharu ...

Sekeras apapun hati seseorang, biasanya dia akan terharu dan matanya berkaca-kaca jika harus menatap orang lagi sakit mata ...

Minggu, 12 Juni 2011

TAICHI MASTER ...

Sehabis wisuda kami bertiga, saya, ibu dan adik saya yang berumur 7 tahun akan pulang ke Wonosobo. Kami bermaksud pulang dengan naik bis lewat terminal Lebak Bulus. Setelah kurang lebih 30 menit naik angkot D08 kami sampai di terminal Lebak Bulus. Turun dari angkot kami langsung diserbu oleh calo-calo yang berada di terminal. Mereka menarik-narik tas kami. Ibu dan adik saya yang tidak pernah mengalami kejadian seperti ini menjadi ketakutan. Karena didesak-desak dan ditanya-tanya terus, ibu saya yang tidak berpengalaman menghadapi serbuan calo langsung menjawab bahwa kami akan pulang ke Wonosobo. Mendengar itu calo/crew bis P*NC* JAYA yang memang bis jurusan Wonosobo langsung merebut tas dari tangan kami. Kami sudah menolaknya karena saya tahu reputasi bis ini, tapi mereka terus mengintimidasi kami. Akhirnya kami terpaksa masuk ke bis P*NC* JAYA.
Hati saya panas sekali. Saya tidak bisa menerima kekalahan ini. Bagi saya, ini adalah sebuah penghinaan. Saya kasihan melihat ibu sama adik saya. Mereka sepertinya masih ketakutan. Otakku berpikir keras bagaimana caranya aku meloloskan diri dari situasi seperti ini. Dan kemudian aku ingat sesuatu. Di otak saya menggema musik ini:
Teeeeng ... teeeng ... teng ... teng ... teng ... teng ... teeeeeng ... (Mohon nadanya dilagukan sesuai musik latarnya film Once Upon A Time In China-nya Jet Li ...).
Aku inget petuah Samo Hung buat Jet Li di film Kungfu Cult Master tentang kekuatan jurus Taichi:
"Jika tidak ada lagi kekuatan dalam dirimu, maka gunakan kekuatan orang lain untuk mengalahkan musuh-musuhmu".
Aku nekad turun dari bis itu dan langsung menuju counter tempat penjualan bis DAMRI (dari awal kami memang bermaksud naik bis ini). Di loket itu saya bilang sama crew yang ada di situ bahwa saya, ibu sama adik saya sebenarnya mau naik bis DAMRI tetapi malah ditarik-tarik oleh calo/crew bis P*NC* JAYA.
Mendengar pengaduan saya para crew bis DAMRI langsung marah. "Mana bisnya !!!" kata salah satu dari mereka. Saya tunjukkan bisnya. Mereka langsung menyerbu dan mendatangi bis yang kami naiki tadi. Sambil marah-marah mereka masuk bis dan mengambil tas-tas kami. Crew bis P*NC* JAYA ketakutan karena kalah jumlah dan mungkin memang merasa bersalah.
Selanjutnya saya, ibu dan adik saya berjalan melenggang dengan bebas dan gagahnya seperti tamu kehormatan yang dikawal sejumlah bodyguard menuju bis DAMRI (bayangkan cara berjalannya sekelompok cowboy di film "TOMBSTONE"). Tas-tas kamipun dibawakan oleh para crew bis DAMRI.
Ibu dan adik saya senang.
Dan di bibir saya tersungging senyum penuh kemenangan. TAAA...AAICHIIIII ...

Hikmah : Tuhan Membalas Tekadku Berbuat Jujur

Pada waktu menjelang UASBN SD anak saya berlangsung, banyak rumor yang beredar bahwa nilai UASBN dapat dijamin tinggi dengan melakukan "SESUATU". Saya dan istri sama sekali tidak tertarik. Mending nilai UASBN anak saya rendah tetapi itu merupakan hasil keringatnya sendiri. Kemampuan diri sendiri yang dilandasi kejujuran. Melakukan "sesuatu" yang saya maksud di sini adalah meminta pihak tertentu meninggikan nilai hasil UASBN. Rupanya modus pembocoran soal sudah mulai bergeser dengan modus baru yang satu ini. Dengan memperoleh nilai tinggi, para orang tua berharap anaknya dapat masuk ke SMP-SMP negeri favorit. Ini akan membuat biaya sekolah menjadi irit dibanding harus masuk sekolah swasta.
Dan setelah ujian selesai, benar saja. Nilai anakku kalah dari beberapa temannya yang dalam kegiatan sehari-hari kemampuannya ada di bawah anakku. Nilai rata-ratanya tinggi sekali. Yang cukup aneh adalah ada keluarga teman anakku yang sudah tahu bahwa nilai UASBN-nya tinggi sebelum nilainya diumumkan. Tetapi saya sendiri tetap memilih untuk tidak berprasangka buruk kepada mereka. Menyalahkan orang lain bukanlah tipe saya. Sifat ini selalu saya buang jauh-jauh dari kehidupan saya. Sehingga saya tetap berpikir bahwa nilai anakku kurang tinggi karena mungkin memang kurang belajar (padahal nilai anakku cukup tinggi juga. Rata-rata 8,5. Anakku juga sama sekali tidak ikut bimbingan belajar. Saya kasihan kalau melihat anakku harus belajar seharian sampai kehilangan waktu bermainnya. Biarlah dia berkembang apa adanya dan tidak kehilangan masa anak-anaknya).
Saya kasihan sekali melihat anak dan istriku. Anakku sedih sekali. Istriku bahkan sampai menangis. Tapi saya sendiri tetap tegar. Saya sama sekali tidak menyesal. Menurutku ini tetap merupakan pilihan terbaik. Dalam riwayat pendidikan anakku, tidak boleh ada ketidakjujuran. Biarlah misalnya nanti terpaksa anakku tidak masuk SMP favorit dan harus bersekolah di sekolah swasta yang mahal dan mutunya kurang bagus, saya tetap akan menerimanya dengan lapang dada.
Pendaftaran dimulai. Karena Disdik DKI Jakarta sudah menggunakan PPDB-Online, saya percaya sekali tidak akan ada kecurangan di sini. Kecurangan hanya bisa dilakukan sebelum PPDB-Online dilakukan (dengan merekayasa nilai saat ujian UASBN SD). Anakku kudaftarkan di SMP-SMP negeri favorit yang posisinya paling dekat dengan rumah. Karena SMP yang paling kami inginkan adalah SMPN 252, maka urutan prioritas yang kami isikan di formulir (kalo gak salah Formulir F2) adalah:
1.SMP 252, 2. SMP 109, 3. SMP 255, 4. SMP 199, dan 5. SMP 139. Sebagai tanda terima kepada kami diberikan formulir F3. Kamipun tinggal memantaunya dari rumah melalui internet. Pertama kali kami buka, ternyata anakku sudah terlempar ke urutan pilihan nomor 4, yaitu SMP 199. Beberapa jam kemudian sudah terlempar ke pilihan ke 5, yaitu SMP 139. Dan akhirnya anakku terlempar juga dari pilihan terakhir. Yang paling mengecewakan, nilai anakku tepat berada di garis batas nilai yang tidak diterima di SMP 139.
Dan ada satu kejadian lagi yang sepertinya merupakan cobaan juga buat kami, yaitu ketidak tahuan kami akan adanya formulir F4. Formulir F4 yang kami pegang ini ternyata berfungsi mengubah pilihan di pendaftaran apabila kami tidak diterima di semua SMP yang kami pilih di formulir pendaftaran pertama (Formulir F2) dengan syarat pendaftaran belum ditutup. Tetapi mungkin karena saking kalutnya perasaan kami waktu itu sampai-sampai kami tidak tahu keberadaan formulir F4 beserta fungsinya. Kalau kami mengetahuinya pastilah kami akan datang ke tempat pendaftaran dan mengubah pilihan SMP-nya walaupun kualitasnya kurang bagus dan jaraknya cukup jauh dari rumah dan harus beberapa kali ganti angkutan. Yang penting masuk SMP negeri karena biayanya akan murah.
Jadi akhirnya anakku tidak diterima di semua SMP negeri dan harus bersekolah di SMP swasta. Tapi kami sudah menyiapkan hati kami untuk menerimanya.
Kalau dipandang saat itu, sepertinya ini merupakan hukuman dan cobaan dari Tuhan buat kami. Tidak diterima di pilihan terakhir dengan nilai tepat di batas bawah dan tidak tahu adanya formulir F4 dan fungsinya untuk mengubah pilihan sekolah. Dua kejadian itu pastilah akan membuat sesak napas semua orang tua yang sedang mencari sekolah untuk anak-anaknya.
Tapi ternyata di situlah Allah membalas tekad kami untuk mempertahankan kejujuran dan menolak berbuat curang.
Inilah fakta yang terjadi kemudian:
1. Tuhan menempatkan nilai anakku tepat berada di batas paling atas nilai pendaftar yang tidak diterima (berarti nilai anakku adalah nilai  tertinggi dari pendaftar yang tidak diterima di 5 SMP pilihan anakku).
2. Tuhan juga yang menutup mata kami agar tidak melihat formulir F4. Jika kami tahu ada formulir F4 kami pasti memanfaatkannya. Sehingga anakku akan diterima di SMP negeri yang kualitasnya biasa-biasa saja. Karena dilihat dari passing grade-nya, nilai anakku sudah pasti diterima.
3. Kedua keadaan di ataslah yang membuat anakku memenuhi persyaratan untuk melakukan pendaftararan di kesempatan terakhir. Yaitu pendaftaran untuk mengisi bangku kosong (bangku kosong yaitu formasi kosong yang ditinggalkan oleh anak yang diterima tetapi tidak melakukan pendaftaran ulang sampai dengan batas waktu yang ditentukan).
Setelah proses dafar ulang selesai maka masing-masing sekolah mengumumkan jumlah bangku kosong yang ada. Di SMP 252 ada 5 bangku kosong. Syarat mendaftar adalah siswa yang benar-benar tidak diterima di semua SMP pada pendaftaran pertama. Saya langsung merinding waktu itu.
Bukankah dengan demikian anakku memenuhi syarat untuk ini ?
Ditambah lagi nilai UASBN anakku adalah nilai tertinggi dari pendaftar yang tidak lolos pada pendaftaran pertama. Itu artinya anakku akan melakukan pendaftaran dengan modal nilai UASBN tertinggi dan tinggal tunjuk saja mana SMP yang ingin dimasuki.
Demikianlah. Akhirnya kami melakukan pendaftaran untuk pengisian bangku kosong. Urutan prioritas tetap sama dengan pendaftaran pertama. Yaitu : 1.SMP 252, 2. SMP 109, 3. SMP 255, 4. SMP 199, dan 5. SMP 139. Anakkupun berhasil masuk ke SMP yang kami idam-idamkan. Dekat dengan rumah (satu komplek dengan perumahan kami) dan merupakan sebuah SMP Negeri favorit.
Alkhamdulillah atas karuniamu Ya Allah ...
Kejujuran itu patut diperjuangkan ...

Wallahu alam bishawab

Tulisan ini saya persembahkan untuk Ibu Siami (Si Jujur Yang Malah Ajur - Kisahnya di sini ...) dan para orang tua yang anak-anaknya akan menjalani UASBN atau tengah berjuang untuk mencari sekolah buat anak-anaknya.

Sabtu, 11 Juni 2011

The Incredible Ondhot - Battle of The Liar (Saling Tipu ...)

Pas musim pohon Mahoni berbuah aku senang sekali mencari buahnya yang bentuknya bagus dan bisa terbang seperti baling-baling helikopter. Biji mahoni ini rasanya luar biasa pahit. Kata orang-orang bisa dijadikan jamu.
Untuk menguji nyali aku sama Ondhot pernah berani-beranian nelan biji mahoni. Kami masing-masing megang satu biji mahoni. 1 .. 2 .. 3 .. yak lomba dimulai. Ondhot langsung berhasil menelannya. Aku juga langsung masukkan ke mulut, dan tidak bisa ke telan saking pahitnya. Beberapa kali kucoba malah mau muntah-muntah. Setelah aku berhasil menelan, ternyata Ondhot cuma ngakali aku. Dengan trik sulap dia masukkan biji mahoni ke saku dan bukannya ditelan. Aku ketipu ...

Jumat, 10 Juni 2011

Ketabrak Mobil ...

Saking pencinatan dan pethakilannya (usil banget), waktu kecil saya pernah ketabrak mobil. Saya suka lari-lari kesana kemari nyebrang jalan raya tanpa tengak-tengok. Padahal Ibu sama mbah Putri tidak bosan-bosannya menasehati agar aku tengak-tengok dulu sebelum menyeberang jalan raya. Tapi ya namanya anak-anak, pesan-pesan model itu mah, masuk telinga kanan keluar di hidung. Ga inget blass ...

Jangkrik


Hampir semua permainan jaman dulu hanya meriah di siang hari. Tapi ada satu pengecualian. Permainan jaman dulu yang mampu memberikan kemeriahan baik siang maupun malam adalah memelihara jangkrik. Jangkrik ini dipiara pada umumnya adalah untuk didengarkan suaranya. Katanya suaranya bisa mengusir tikus. Tindakan agar jangkrik mengeluarkan suara (ngengkrik) disebut ngileni. Yaitu menggelitiki muka jangkrik dengan sebatang rumput kering (kili). Walaupun ada yang memanfaatkan untuk diadu.
Sejak kecil saya tidak suka mengadu jangkrik. Kasihan. Apalagi kalo lihat ada yang gothang (kaki belakangnya patah). Makanan kesukaan jangkrik adalah krekot. Tetapi bagi teman-teman yang bukan penyayang jangkrik biasanya dikasih umpan cabe merah. Memang ngengkriknya (mengeriknya) jadi lebih keras (mungkin karena kepedesan ya?). Tapi umpan cabe merah dapat mengakibatkan kaki jangkrik mrotoli (lepas dari tubuh).
Kalo jangkrik mau diadu biasanya dia dijantur sungutnya dulu (dipegang bagian antena dan tubuhnya tergantung). Tindakan ini dilakukan untuk memancing amarah si jangkrik, sehingga pada saat berkelahi jadi pemberani.
Penjual jangkrik biasanya meletakkan jangkrik pilihan di kotak-kotak bersekat yang terbuat dari kaca. Harganya  mahal. Sedangkan jangkrik yang belum terseleksi biasanya ditaruh di dalam bumbung yang ditutupi dengan janggel kering. Harga yang di bumbung ini relatif lebih murah.

Lele Raksasa

Suatu sore saya sama Supri mau beli makan malam di warteg yang di Jl. Kalimongso (d.h. Jengkol) yang ada jalan tembus ke PJMI (sebelahnya ada toko kelontong punya orang Batak). Waktu masuk saya dapat nomor antrian 3. Pas kami berdiri ngantri dilayani pas penjual yang tukang goreng ngangkat hasil gorengannya dari wajan. Gorengan yang dia angkat adalah lauk kesukaanku. Lele goreng ...
Dan yang membuat mata kami terbelalak adalah adanya 2 ekor lele yang ukurannya sangat besar di situ. Sepertinya hampir tiga kali ukuran lele goreng lainnya. Hampir sebesar lengan. Keadaan menjadi tegang. Suasananya mirip koboi yang mau cepet-cepetan nyabut pistol. Hati saya deg degan. Dua ekor lele berukuran besar hanya ada dua ekor sedangkan saya ada di urutan 3. Tapi saya agak tenang karena saya tahu, dua mahasiswa di depan saya biasanya yang satu lauknya telur dadar dan yang satunya lagi biasanya sama sarden.
Dan ketika pelayanan dimulai:
Mahasiswa pertama : " Saya sama lele mbak !".
Aku : Lesu ...
Mahasiswa kedua : "Saya sama lele mbak !".
Aku : @%^&#$*#%$ ...
Aku mangkel banget sama mereka. Mengapa mereka mengingkari prinsip dan kebiasaan mereka hanya untuk dua ekor lele. Ataukah mereka sengaja menyakiti hatiku ?
Hari itu saya kalah. Saya pulang dengan lemas sambil membawa bungkusan berisi nasi dan seekor lele yang masih kecil. Lama sekali saya harus melupakan pengalaman traumatis ini. Bahkan sampai sekarang ...

Il Phenomenon - Herjanto - 2

Herjanto adalah teman satu kost-ku waktu tingkat I. Tubuhnya kecil dan kulitnya putih. Suara dan intonasinya kalo lagi bicara sangat khas. Pandangan matanya sayu.
Aku sangat menghargai jasa-jasa dia selama kuliah di Jurangmangu. Dia pula yang menghindarkan aku dari keburukan-keburukan yang mungkin waktu itu bisa menimpaku. Terutama keburukan sebagai mahasiswa tertua dan mahasiswa dengan nilai IPK terendah di kelas. Di kost-kost-an kami di daerah Sarmili (Sarang Militan) aku, Agus sama Herjanto punya kebiasaan berbeda.
Aku suka berolahraga untuk membentuk otot seperti rengen, push up dan shit up. Maksudnya biar badanku mirip Arnold. Tapi sayang waktu itu tidak didukung dengan gizi yang cukup. Pengen seperti Armold tapi makannya tiap hari warteg sama Indomie.
Kalau Agus suka merawat mukanya. Dia suka beli produk perawatan muka yang cukup mahal untuk ukuran waktu itu. Mereknya R**tra. Tapi mungkin karena bahan dasarnya (muka dia) yang sudah kelewat jelek, jadi produk itu nyaris tidak punya efek sama sekali.
Kalau Herjanto malah tidak ada yang dia lakukan. Sepertinya hidup dia gak punya target atau tujuan. Tiap hari apa yang dia lakukan mengalir begitu saja. Kuliah - ke masjid - makan - tidur - mandi. Begitu seterusnya.
Suatu hari kami baru datang dari kampung karena baru saja libur ujian semesteran.
Waktu kami bertiga bertemu kami mengisahkan cerita masing-masing yang kami alami waktu di kampung :
Aku : " Kok aku sama keluargaku di bilang makin kurus saja. Padahal aku kan sudah berlatih dan berolahraga ya ..." (jelas saja orang makannya tiap hari kurang gizi terus).
Agus : "Aku malah dibilang makin item saja. Padahal aku sudah merawat mukaku ..." (yang ini aku tidak tahu apa penyebabnya).
Herjanto: "Ah kalian masih mending. Gue mah boro-boro ditanyain. Orang waktu datang dan pergi saja gue dicuekin ..." (Astaga ! Malang nian nasibmu nak ...).

Kamis, 09 Juni 2011

The Incredible Ondhot - Lomba Pencak Silat

Nama sebenarnya adalah Sukur. Tapi entah kenapa dipanggilnya Ondhot. Dia adalah saudara plus sahabat terbaikku sewaktu kecil (tentu saja sampai sekarang). Sebenarnya ada satu lagi saudara sekaligus sahabat saya yang lain. Namanya Sarno. Tapi mereka berdua tidak pernah bisa bersatu. Saya tidak pernah tahu apa penyebabnya. Saya selalu berusaha mempersatukan mereka berdua, tetapi tidak pernah berhasil. Saya hanya bisa bermain dengan salah satu dari mereka. Kalau mereka disatukan, sudah pasti akhirnya bertengkar.
Tetapi dalam hal bermain-main di waktu kecil, dengan Ondhot-lah aku paling sering menghabiskan waktu. Di samping teman main paling akrab, dengan dia pula aku paling sering berkelahi. Waktu kecil dia tukang ngarang. Dan juga norak banget ( yang ini kayaknya sampai sekarang dech ...).

Indomie Tjap Dua Telor ...

Suatu malam aku, Agus sama Duto makan Indomie rebus di warung akang deket tempat kost-nya Agus sama Duto. Di dalam warung itu sudah ada 3 mahasiswa lain yang duluan duduk. Kami tidak mengenal mereka. Kemudian kami duduk dengan berjejer. Posisiku adalah tempat duduk yang jejer dengan mahasiswa yang tidak kami kenal tadi.
"Mie rebus kang. Pake telor ya. Kasih Blueband juga ...!" Kataku sok kota. Padahal ide nambahi mentega ke mie rebus juga cuma tiru-tiru pembeli lain yang kulihat sebelumnya (jangan-jangan dia juga sok kota karena lihat pembeli sebelumnya juga ya?). Karena 6 orang pembeli ternyata pesannya sama persis, maka seperti kebiasaan yang sudah-sudah Si Akang langsung membuatnya dengan sekali masak saja dalam satu wajan. Sambil menunggu mie rebus matang kami berbincang-bincang.
Lima belas menit kemudian mie rebus matang. Akang membaginya menjadi 6 porsi.
Mangkokpun dibagikan "DENGAN ADIL" kepada kami. Paduan kuningnya mie bertirai putihnya telur rebus, berhiaskan sawi nan hijau dengan taburan bawang goreng garing coklat nan menawan (kalian hapal banget sama teksturnya kan ?) terhidang di depan kami..
Segera suasana menjadi sibuk. Seperti ada lomba memasak. Masing-masing membuat racikan dan paduan bumbu sesuai resep andalan masing-masing. Ada yang ngasih saosnya banyak banget sampai mangkoknya kelihatan seperti lautan darah, ada yang ngasih mricanya ugal-ugalan, dan lain-lain.
Demikian pula aku. Setelah aku kasih saos dan mrica secukupnya mie rebusku aku aduk (kalian hapal banget kan urut-urutan ritual ini ?).
Dan ... Lho ... Kok aneh ???
Kenapa ada 2 kuning telur di mie rebusku.
Wah ini kejutan besar buatku.
Rejeki nomplok !.Aku gembira sekali.
Tapi sejenak kemudian aku langsung sadar dan berpikir logis:
"Kalo ada 2 kuning telur di mangkokku berarti ... ???"
"Ada satu mangkok yang tidak ada kuning telurnya !!!".
Langsung saja pandanganku menyapu ke mangkok-mangkok dan pembeli lain di sekelilingku. Dan pandanganku berhenti pada salah satu pembeli yang terpaut satu orang sama aku. Kulihat matanya melotot melihati mangkokku. Mukanya terlihat penuh angkara murka !!!
Waahh ... Rupanya kuning telur yang ada di mangkokku seharusnya ada di mangkok dia.
Aku sebenarnya juga merasa ga enak. Tapi masak kuning telurnya aku kembalikan. Suasananya makin gak kondusif saja kan ?
Akhirnya tetap aku nikmati saja mie rebus cap dua telor.
Dalam hatiku berkata begini:
"Sudahlah Mas. Rejeki sudah diatur sama Yang Di Atas. Walaupun kali ini lewat tangan Akang ..."
" Lain kali kalo bawang gorengku ikut ke mangkok sampeyan, saya akan ikhlas kok ..." ...

Takut DO (Kiriman pembaca: SUHARIADI)


Sepulang ujian akuntasi inter II yang dosennya Bu Diah, temen ane bimbang beribu bimbang. Pasalnya dia sama sekali gak bisa ngerjain soal-soal yang diujikan. Jangankan balance, tahu akunnya saja gak. Gitu oceh dia selama perjalanan dari kampus ke Ceger.
"Udah deh gak usah dibahas lag. Makin dibahas makin makan hati".
Temen ane makin gundah. Wajahnya kosong. Tatapannya lesu.
"Kayaknya aku di DO ni, soalnya ada beberapa soal yang dijawab "Maap Buk ! saya belum belajar, tadi malem saya sakit.".
Lantas ane tanya "Mang sakit apa?". Katanya temen ane diare habis makan nasi orek di salah satu warung di ceger.
"Hmm...ya sudah..gak papa yang penting sudah berusaha." jawab ane menghibur.
Ternyata justru bikin dia makin gundah kelana.
Ketika akan menyeberang jalan Ceger, temen ane nyelonong gitu aja. Nyebrang ke sisi masjid Ceger. Habis itu balik nyebrang lagi ke sisi ane. Habis itu balik nyebrang lagi ke sisi masjid. Habis itu nyebrang lagi ke sisi ane. Mirip orang yang zigzag di tengah jalan.
What the kamsud ???
Ane teriakin dia "Hoi ati-ati ente !!!" Dia terperangah dan cuma bengong aja. Sesampainya di warung ane interogasi apa maksud dia gitu tadi. Ternyata saking bingungnya takut ke DO jadi kacau pikirannya. Korslet istilah dia. Tadinya mau pulang ke kos nyebrang ke sisi masjid. Gak jadi trus nyebrang ke sisi ane pikirnya sekalian beli makan di warung. Udah nyebrang di sisi ane kepikiran dia gak bawa dompet, jadi nyebrang ke sisi masjid. Habis itu dia nyebrang jalan lagi ke sisi ane baru inget kalo selama ini makan siang kasbon dulu di warung sunda. Untung gak ada C-05 yang menerjang ni anak.
Sebegitu hebatnya efek gak bisa jawab ujian bagi psikologis anak STAN...ck. .. ck. .. ck ....

Rabu, 08 Juni 2011

Nonton Di 21 (rekondisi ...)

Aku termasuk mahasiswa yang cukup hati-hati membelanjakan uang. Setiap berbelanja aku perhitungkan dengan seksama. Semua pengeluaran aku irit-irit demi masa depan. Yaitu masa depan hobiku nonton film.
Pada tahun 92-an gedung film yang deket kampus cuma ada Pondok Aren Theatre (PA) sama Kharisma Theater. Saya baru sekali nonton di PA. Dan langsung kapok. Ternyata kursi yang digunakan adalah kursi metro mini. Keras. Itu terpaksa kulakukan karena saking pengennya nonton film "Universal Soldier". Yang ternyata jelek banget. Di Kharisma Theater -pun aku ga terlalu suka. Gambarnya kurang tajam dan sound-nya jelek. Aku lebih suka nonton di 21 walaupun jauh dan mahal.
Siang itu aku pengen banget nonton film di 21 untuk pertama kalinya. Kebetulan filmnya lagi bagus dan memang sudah lama aku tunggu-tunggu. Aku sebenarnya sudah ngrayu Agus sama Herjanto untuk ikutan nonton (bayar sendiri-sendiri tentunya). Tapi mereka tetap tidak mau. Akhirnya aku pergi sendiri.
Saat pertama kali ke bioskop 21, film yang pertama kali mau aku tonton adalah "JURASSIC PARK" (sekitar tahun 1993). Waktu itu nontonnya di Amigos 21, Plaza Borobudur. Saat antri beli karcis aku lihat kok antreannya panjang banget sampai keluar ruangan khusus sinema. Padahal loket yang di sebelah sepi dan ada penjaganya yang melayani penjualan karcis. Dasar bodoh! Kataku dalam hati. Loket sebelah kosong malah pada desek-desekan antri sampai ke luar ruangan. Tanpa pikir panjang aku langsung beli karcis di situ.Jebret, karcis kebeli, langsung masuk ke theatre yang memutar film "JURASSIC PARK". Sempat dicegah oleh penjaganya tapi nekad saja. Lha wong sudah pegang karcis, lagian juga udah kebelet banget pingin lihat itu film.
Aku cari tempat duduk. Lha kok semua kursi sudah ada isinya. Akhirnya aku keluar dan kulihat tiketnya dengan maksud mau nanya ke penjaganya. Alamak ... Ternyata aku beli tiketnya salah. Tiket yang kubeli di loket yang sepi tadi ternyata adalah tiket untuk film "SOMMERSBY" yang diputar di theatre sebelahnya. Terpaksa dengan tubuh lemas aku masuk dan nonton film berbayar terjelek sepanjang masa (filmnya mirip telenovela "LITLLE MISSY"). Di dalamnya ruangan sepi. Hanya beberapa gelintir penonton yang ada di dalamnya. Dan sepertinya semuanya berpasang-pasangan (pacaran). Tinggalah aku sendirian menyesali nasib buruk kehilangan duit masih ditambah harus nonton film jelek selama dua jam ...

Asep - The Untold Story

Suatu malam menjelang akhir-akhir kami berada di kampus, temanku Agus datang ke kostku. Dia mengadu dan berkeluh-kesah perihal permasalahan yang dia hadapi ke aku.
Agus: "Aku ada masalah nih. Asep kan punya hutang sama gue. Tapi sepertinya dia lupa ..."
Masih Agus: "Jumlahnya lumayan. Kalau bangsa 5 ribu sich gue ikhlasin saja  ..."
Aku: "Emangnya berapa hutang dia ?"
Agus: "Lumayanlah. 20 ribu ..".
Aku: "20 ribu ??? Itu duit besar bung ...!"
Agus: "Makanya gue ke sini. Gue mau minta tolong ame lu bagaimana caranya agar dia inget sama utangnya tanpa harus gue tagih".
Agus: "Nanti kalau berhasil, lu gue traktir nasi goreng emping + telur dadar depan kampus itu dech ...".
Ini tidak boleh dilewatkan. Sebuah iming-iming yang luar biasa menarik buatku. Rupanya Agus tahu benar kelemahanku.
Akhirnya sambil kutepuk pundaknya aku bilang begini:
"Kamu datang sama orang yang tepat nak ..."
Malam itupun aku menyusun rencana seperlunya.
Malam berikutnya misi dilaksanakan. TKP adalah "ruang oval ballroom The Duto Residence" alias kamar kostnya Duto (yang juga kamarnya Agus. Mereka kan sekamar ...). Malam itu kami mengadakan pertemuan rutin dengan tema "tanpa guna tiada tujuan" (menunggu pengumuman penempatan). Skenario yang aku rancang begini: Aku akan pura-pura bertanya sama teman-teman yang ada di situ apakah aku masih punya hutang-piutang yang harus dibayar. Aku berharap memori Asep akan terstimulasi oleh skenarioku dan mengingat kembali hutangnya sama Agus.
Delegasi yang hadir saat itu adalah: Duto + Agus selaku tuan rumah, Endriyana (entah apa artinya, tapi Duto selalu memanggil dia dengan julukan Bayer), Asep dan aku sendiri.
Setelah ngobrol ngalor-ngidul cukup lama akupun mulai menjalankan rencanaku. Aku menyela pembicaraan dan ngomong begini:
"Kita kan sebentar lagi mau pisahan nich. Aku mau nanya, apa aku masih ada hutang sama kalian. Tolong diingat-ingat. Jangan sampai sesudah pisah diantara kita masih punya urusan hutang-piutang ...".
Semua teman menjawab bahwa tidak ada hutang saya sama mereka.
Lalu setelah agak hening sejenak tiba-tiba Asep berkata begini :
"Eeh ... Iya ... Gue kan punya utang sama elu ya Gus ..." (Break !!! Break !!! Rojer Rojer ... sshhh !!! Jalak-Jalak ... Ikan telah memakan umpan ... sshhh ... 86 ... 86 ... sshhh ... TKP harap dikondisikan ... sshhh ...)
Kemudian Agus bilang begini : "Gue juga sudah lupa Sep ...".
Kulihat muka agus tersenyum salah tingkah (itu lho, senyum yang bikin pipi pegel ...).
Selanjutnya Asep ngasih uang 20 ribu ke Agus.
MISSION ACCOMPLISHED !!!
Akhirnya aku berhasil menikmati hasil jerih payahku.
Malam itu aku ditraktir Agus makan nasi goreng emping+telur dadar kesukaanku.
KASUS DITUTUP !!!

NB:  Sorry Sep. Akulah dalang di balik konspirasi besar ini ...