Semakin bluthuk/kotor mobilmu, maka semakin puas hatimu ketika kamu keluar dari guyangan/pencucian mobil ...
Kamis, 01 Agustus 2013
THR ...
Sesungguhnya THR adalah bid'ah ...
Maka barang siapa yang ada keraguan di hatinya dalam menghabiskannya, maka silahkan transfer ke rekening saya ...
Kemaruk ...
Kayaknya tadi siang haus dan lapar banget. Giliran Maghrib tiba baru dimasukin ketoprak, lontong sayur, mie ayam, dawet, kolak dan es buah saja, semua rasa lapar dan haus langsung ilang ...
Iktikaf ...
Akibat awal Ramadhan yang berbeda maka malam genap ganjil 10 hari terakhir juga menjadi selang-seling.
Berarti warga Muhammadiyah dan NU bisa bergiliran iktikaf di masjid.
Baguslah ...
Yang penting akur yaa ...
Buka Puasa ...
Sungguh banyak orang berpuasa, tapi sorenya hanya mendapat menu buka puasa segelas teh, nasi putih, kecap dan ndog ceplok ...
Kejatuhan Cicak ...
Kejatuhan cicak adalah tanda-tanda sial paling nyata ...
(Yang sial cicaknya maksudnya ...)
(Yang sial cicaknya maksudnya ...)
Rabu, 10 Juli 2013
"Renungan Ramadhan Seorang Awam" = Bermacam Sifat Teman ...
"Renungan Ramadhan Seorang Awam"
Berdasarkan Kisah Nyata
Bermacam Sifat Teman (Bagian I)
Demikian beragam Tuhan menciptakan sifat manusia. Mungkin itu semua agar kita bisa memetik sebuah pelajaran darinya. Seperti pengalaman yang kualami ketika berteman dengan dua orang yang berbeda sifat.
Di satu sisi aku berteman dengan seseorang yang menurut penilaian dia sendiri dia dan keluarganya adalah calon penghuni sorga. Menyebut suaminya dengan julukan malaikat dan anak-anaknya dengan sebutan bidadari. Selalu menceritakan tentang cara hidupnya seolah-olah pola hidupnya adalah contoh terbaik yang harus diteladani orang lain. Mencontohkan kesederhanaan di rumahnya yang tergolong mewah. Menyebut suaminya yang prestasinya biasa-biasa saja laiknya membicarakan seorang sahabat Nabi.
Di sisi lain aku mengenal seseorang yang demikian rendah hati dan tak menyadari betapa keluarganya adalah kumpulan orang-orang hebat yang patut dibanggakan. Dia, istri dan dua putrinya yang masih SD sudah menulis buku yang diterbitkan dan dijual secara nasional. Kabarnya putri bungsunya akan segera menyusul. Begitu rendah hatinya dia hingga kadang-kadang masih menghubungi aku untuk sekedar menanyakan bagaimana membuat prolog yang bagus untuk sebuah tulisan.
Kesederhanaan hidupnya tak usah dipertanyakan lagi. Dia tak pernah menceritakannya hingga hanya sahabat-sahabat terdekatnya saja yang tahu. Beruntung sekali aku adalah salah satu darinya. Dalam sebuah kesempatan dia pernah berkata: "Sepanjang masih ada sebutir telur untuk anakku, aku merasa hidupku sudah aman. Aku dan istriku biasa makan dengan lauk kecap dan krupuk ...".
(Bersambung ...)
Rabu, 26 Juni 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
