Tampilkan postingan dengan label The SMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The SMA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2011

Plaza Indonesia ...

Pas kelas 2 SMA aku main ke rumah saudaraku di Jakarta. Sepanjang perjalanan rasanya aneh banget. Maklum saja, itu adalah perjalanan terjauh pertamaku. Aku berangkat bareng adikku Wiwin yang orangnya sableng dan kocak.
Kami naik bis Sinar Jaya. Tiba di Pulogadung kami berdua langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ada suara bis Mayasari Bhakti yang suaranya mirip suara orang pilek. Begitu juga waktu kami naik bajaj. Kami menahan tawa kami pas dengar suaranya yang cempreng itu. Tapi akhirnya tawa kami jebol dan langsung terpingkal-pingkal waktu melihat dan merasakan bagaimana mudahnya bajaj berputar. Kluweerrr ... Enak banget ...

Senin, 05 September 2011

Panji Sang Petualang ...

Jauh sebelum ada acara Panji Sang Petualang sebenarnya kami sudah mengawalinya sejak kami SD. Dulu kami senang sekali bermain-main dengan ular beneran. Sudah kami seneng main-main sama ular, guru kami yang bernama Pak Tontowi memberikan informasi bahwa apabila ular dipegang buntutnya, maka kepalanya tidak akan dapat menggigit tangan yang memegangnya.. Jadinya setiap ada ular biasanya langsung kami kejar kemudian kami pegang ekornya, kami angkat. Setelah puas dimain-mainkan lalu kami banting sampai mati (sadis ya?).

Jumat, 19 Agustus 2011

Film Tentang Puasa ...

Waktu SMA saya pernah melihat film barat yang mengisahkan tentang seorang remaja yang tidak boleh makan dan tidak boleh minum seharian (cuma untuk satu hari).

Senin, 15 Agustus 2011

Salah Masuk ...

Pada tahun 1991, lulus dari SMA untung-untungan aku ikut seleksi jadi pilot di Merpati Nusantara Airlines (Kebayang ... Kalo aku keturutan jadi pilot lalu pramugarinya dipilihkan yang model bagaimana ya???). Tes dilakukan di Gedung Angkasa Pura di kawasan Kemayoran.

Minggu, 14 Agustus 2011

Puasa Terusan ...

Karena tidak tahu hukumnya, suatu hari temanku melaksanakan puasa dengan caranya sendiri.
Begini cara dia berpuasa waktu itu. Makan sahur, kemudian pada saat berbuka puasa dia hanya minum air putih. Demikian juga malam berikutnya pada waktu sahur, dia hanya minum segelas air putih juga. Jadi hitung-hitungannya dia berpuasa selama dua hari.

Senin, 08 Agustus 2011

Ora Ilok ...

Ora ilok atau pamali adalah sebuah kata yang artinya kurang lebih sesuatu yang tidak boleh dilakukan karena jika tetap dilakukan akan mengakibatkan sesutu yang buruk bisa terjadi.
Tapi buatku, kata-kata pamali ini justru sering mendatangkan keuntungan secara materi.

Selasa, 19 Juli 2011

Sandiwara Radio ...


Waktu saya masih di SMP 2 Purworejo saya sempat heran sama teman-teman yang suka dengerin sandiwara radio yang judulnya Saur Sepuh. Waktu itu saya sich muak banget sama acara yang model beginian. Kampungan kataku. Bahkan saking keranjingannya, beberapa teman dibela-belain bawa radio ke sekolahan. Kalo pas sandiwara ini diputer, mereka pura-pura izin ke belakang demi dengerin ini acara.

Rabu, 13 Juli 2011

Bahasa Inggris ...

Waktu SMA aku termasuk anti banget sama yang namanya pelajaran Bahasa Inggris. Padahal nilaiku sebenarnya ga jelek-jelek amat. Rasa sebel sama pelajaran yang satu ini mulai tumbuh sejak kelas 2 dan berlanjut ke kelas 3. Mungkin karena tidak cocok sama cara guru menyampaikan pelajaran.
Sampai-sampai waktu kelas 3 aku selalu deg-deg plas kalo pas pelajaran berlangsung. Apalagi kalo pas guru pakai acara nanya-nanya atau main tunjuk ke depan. Guru Bahasa Inggris waktu aku kelas 3 SMA memang hobi banget sama cara mengajar model begitu.

Senin, 11 Juli 2011

Toilet ...

Waktu SMA saya pernah main ke Jakarta. Tapi walaupun baru pertama kali ke Jakarta. Saya sudah berani platasan keliling Jakarta naik bis kota. Saya suka sekali naik bis tingkat jurusan Blok M-Kota. Biasanya saya selalu naik di bagian atas dan duduk di kursi paling depan. Saya suka sekali melihat-lihat gedung pencakar langit yang tidak saya jumpai di Wonosobo.
Suatu hari saya main ke Citra Land Mall Grogol. Di sana saya cuma muter-muter saja. Ga ada yang dibeli karena kantong cekak. Kelamaan di hawa dingin saya kebelet kencing. Saya segera mencari-cari toilet. Di pojokan aku lihat ada tanda toilet. Saya menuju ke sana. Tapi sayang sekali di depan saya sudah ada yang masuk duluan. Sayapun menunggu di luar.
Pas nunggu itu ada satpam yang melihati saya. Dia mendekati saya dan bertanya:
Satpam : "Mau kemana Mas?"
Saya     : "Mau ke WC Pak ..."
Satpam : "Masuk saja !"
Saya     : "Di dalam ada orangnya Pak ..."
Satpam : "Ga papa. Masuk saja. Di dalam WC-nya banyak ..."
Dengan sedikit ragu-ragu aku membuka pintu dan masuk.
Ternyata di dalam ramai dan memang WC-nya banyak. Ada yang berdiri dan ada yang dalam bilik-bilik.
Hmmm ... Asyeemm ... Konangan ndesoneee ... 

Senin, 04 Juli 2011

Dipanggil-panggil WTS ...

Karena sejak kecil aku hidup di terminal makanya jangan heran jika kenalanku dari semua golongan ada (maksudnya segala profesi rendahan). Kami mengenal siapa saja tukang copet dan kutil yang beroperasi di pasar. Tukang tipu, preman, maling, pelacur, dan profesi-profesi sejenis lainnya. Bergaul dengan lulusan hotel prodeo adalah hal yang biasa buat saya.
Kejadian ini terjadi sewaktu saya masih SMA. Waktu itu aku ngekost tempat Herdiyanto. Karena jarak tempat saya tinggal dengan sekolahan sekitar 20 km.
Suatu malam saya jalan-jalan sama Herdiyanto keliling kota Wonosobo dengan berboncengan sepeda motor. Kami memang sering melakukan ini. Malam itu sebenarnya rute yang kami lalui adalah rute yang biasanya. Salah satu yang jalan selalu dilalui adalah jalan paling ramai dan paling besar di Wonosobo yang kalo malam digunakan para WTS mangkal. Di Wonosobo daerah ini dikenal dengan sebutan sarsor. Singkatan dari pasar ngisor.
Tapi malam itu rupanya aku lagi apes. Pas jalan boncengan lewat sebelah sarsor aku dengar ada suara cewek   teriak-teriak.
" Wid mampir ... !"
" Mampir Wid ... !"
Melihat arah datangnya suara sudah tentu yang memanggil-manggil aku adalah seorang WTS.
"Sopo kae Wid ?", tanya Herdiyanto penuh selidik (siapa itu Wid).
"Mberuh jah ..."., jawabku (Gak tau).
Wah tapi daripada menjadi fitnah mending aku cari penjelasan kasus ini sekalian. Akupun muter sekali lagi lewat jalan itu dan dia kembali memanggil sambil ngawe-ngawe (melambaikan tangan). Setelah aku amati baru aku tahu. Ternyata dia adalah tetangga di Sepuran yang berprofesi sebagai pelacur. Biasanya dia mangkal di terminal Sepuran. Entah kenapa malam itu dia mangkal di sarsor Wonosobo. Mungkin omset dia di Sepuran makin turun akibat naiknya tingkat keimanan di desa saya, Sepuran ...

Kamis, 30 Juni 2011

Kartu Identitas

Sudah sejak lama saya menginginkan punya kartu identitas resmi. Kartu identitas yang menandakan keberadaan saya di dunia ini diakui. Di SMP 2 Purworejo-lah kesempatan pertama saya memperolehnya. Yaitu saat pembuatan kartu OSIS (waktu itu teman saya Eddy memberi tahu apa kepanjangan OSIS. Dari dialah pertama kali saya dengar bahwa OSIS adalah singkatan dari "Ojo Senggol Iki Susu").
Pas pembuatan Kartu OSIS saya antusias menyambutnya. Pasti keren sekali punya kartu identitas. Bisa dapat diskon kalo nonton di Bagelen Theatre lagi.
Tapi sayang sekali harapan saya tidak sesuai dengan khayalan. Setelah Kartu OSIS jadi, ternyata foto saya merem. Berkhayal mirip Rano Karno malah jadinya Herman Ngantuk.
Tapi untuk mengatasinya aku tidak kehabisan akal. Pada bagian matanya aku totol pakai tip-ex. Kemudian bagian tengahnya aku itemin pake spidol. Jadilah mataku melek. Walaupun kelihatan agak mendelik/melotot. Tapi gak papalah. Masih mendingan dari pada merem. Sayangnya Kartu Osis ini tidak dapat aku temukan. Keberadaannya tidak saya ketahui. Misterius ...
Aku memperoleh Kartu Osis kedua adalah waktu masuk SMA 1 Wonosobo. Gambar di bawah ini adalah asli kondisi fisik Kartu OSIS-ku waktu SMA. Memang fotonya aku ganti gambar aktor pujaanku. Tapi memang foto itu yang aku pakai waktu masih sekolah di SMA 1.
Anak lain yang Kartu OSIS-nya semacam ini adalah punya Hernawan. Tapi kalo foto dia diganti dengan gambar kucing hasil nggunting dari korek api. Menurut saya wajah kucing itu ternyata memang mirip sama tampang aslinya Hernawan. Orang yang melihat akan menyangka itu asli foto dirinya. Sama dengan foto Kartu OSIS-ku lah ...


Ini adalah Kartu OSIS-ku sesuai keadaan aslinya. Sebelumnya tidak ada fotonya lalu aku pasangi foto ini.


Ini Kartu Mahasiswaku


Ini adalah kartu identitas paling keren yang pernah aku miliki.

SERBA ADA

Waktu aku SMA dulu, di daerah Kalierang ada orang kaya yang namanya Sarwono. Sarwono atau Sarwo Ono dalam Bahasa Indonesia berarti Serba Ada.
Mungkin itu maksudnya kenapa di tembok pagar depan rumahnya diberi tulisan besar "SERBA ADA".
Kalo penumpang angkot mau turun di situ mereka akan teriak:
"Serba ada kiri !!!"

Jumat, 17 Juni 2011

Tanjungsari - 2

Sore-sore waktu berkemah di Tanjungsari di waktu senggang kadang-kadang kami menyempatkan diri jalan-jalan di sawah-sawah yang ada di sekitar lokasi.
Ada satu kejadian cukup mengenaskan waktu jalan-jalan sore. Salah satu teman yang tidak bisa kami sebutkan namanya (yang jelas bukan regu saya) tiba-tiba kebelet buang air besar. Tanpa lihat-lihat dia langsung buka celana dan langsung buang hajat di parit yang ada di situ. Rupanya dia tidak tahu kalo di bagian ujung parit itu digunakan sebagai tempat pencucian mobil. Baru beberapa menit setelah dia jongkok ada orang teriak marah-marah.
"Hai jangan berak disitu !!!"
Teman-teman lari semua. Diapun sudah diajak lari, tapi ga tahu kenapa dia malah menyerahkan diri. Akibatnya sebagai hukuman dia disuruh mengambil dan membuang kotorannya sendiri menggunakan ember yang dipinjami para pencuci mobil. Dia ambili satu persatu dan dibuangnya kesawah-sawah di sekitarnya.
Duh ... Jatuhlah wibawa kami. Keren-keren berseragam pramuka malah ada teman yang dihukum harus ngambili kotorannya sendiri ...

Sabtu, 04 Juni 2011

Brem ...

Kelas 2 SMA sekolahanku mengadakan study tour ke Bali. Kami menginap beberapa hari di sana. Waktu pulang ke Wonosobo kami membawa oleh-oleh khas dari tiap tempat wisata yang kami singgahi. Salah satu yang kami beli adalah brem. Makanan ini rasa dan bentuknya sangat khas.
Kebetulan sekali pada saat kami pertama kali masuk sekolah, ruangan kelas kami habis dicat warna cream. Kaleng-kaleng cat tembok masih ada di sekitar kelas. Sisa-sisa cat tembok warna cream yang ada di kaleng mengering. Warna, tekstur dan ukurannya ternyata sama persis dengan kue brem yang kemarin kami beli di perjalanan pulang dari Bali. Kamipun akal-akal mengambilnya. Kalau gak salah yang ngambil adalah aku, Priyo sama Suharman (I'U). Cat tembok kering ini kami bawa ke dalam kelas. Kami berkerumun di kelas terheran-heran dengan kemiripan kue brem dengan cat tembok kering itu. Saat kami pegang dan kami lihat-lihat, tiba-tiba temanku Arif Sundoro masuk ke dalam kelas. Saat melihat kami memegang cat tembok kering itu dia berteriak dengan gembira.
" Wah ... Brem !!!".
Dia ambil saja cat tembok yang sedang kami pegang-pegang dan langsung dimasukkan ke mulutnya.
Lhepp ... ???? 
dan
Poah !!!!

Jumat, 03 Juni 2011

Jagoan Fisika ?

Waktu kelas dua SMA masih awal-awal pelajaran dimulai beberapa murid masih belum saling mengenal karena baru saja dioplos (dioplos ???). Cuma ada beberapa teman yang memang cukup punya nama di sekolahan saja yang sudah langsung dikenali di kelas.
Karena informasi tentang kemampuan masing-masing siswa masih simpang-siur, makanya pernah suatu hari pas mau ada pelajaran Fisika temanku yang namanya Titik mendatangi mejaku sambil membawa buku dan berkata begini : "Kamu kan pinter pelajaran Fisika. Ajari aku ngerjain soal ini donk!" (tentu saja pake Bahasa Wonosoboan lah ...), katanya sambil menyodorkan buku cetak Fisika. Aku terdiam dan tersenyum kecil. Dalam hatiku : "Siapa gerangan yang telah menyebarkan fitnah keji ini. Pinter Fisika ? Aku kan paling benci sama pelajaran Fisika".
Teguh teman sebelahkupun tersenyum sinis entah mengejek entah iri sama aku (jaman itu dianggap pinter oleh Titik memang potensial bikin iri laki-laki lain di kelas). Tapi yang jelas untuk pelajaran Fisika, Teguh-lah yang paling pinter waktu di kelas satu setelah Herdiyanto (kami dengan Herdiyanto akhirnya pisah kelas).
Dan cerita SMA di kelas 2-pun dimulai dari sini ...

Rabu, 01 Juni 2011

Konangan ...

Peristiwa memilukan memalukan ini terjadi pas kelas I SMA. Waktu SMA (bahkan dari SD, SMP dan SMA) om saya punya persewaan buku. Tentu saja saya rela menjadi penjaganya walaupun tidak dibayar sama sekali. Yang penting bisa baca komik sepuasnya tanpa bayar. Jadi kadang-kadang teman-teman di kelas minjem sama saya (pasti gratislah ...). Ada yang pinjam Wiro Sableng, ada yang Kho Ping Hoo dan beberapa di antaranya ada yang menggemari novel Nick Carter. Tentu saja proses pinjam meminjam biasa dilakukan di kelas.
Suatu saat ada teman yang mengembalikan novel Nick Carter pas istirahat (aku masih inget judulnya : Baramanga). Aku taruh saja bukunya di tas sekolahku.
Di sinilah aku membuat kesalahan. Aku lengah. Aku tidak ingat bahwa setelah istirahat pelajarannya adalah Bahasa Indonesia (sebenarnya ini pelajaran favoritku). Yang menjadi masalah adalah gurunya waktu adalah Pak Mustangin. Yaitu guru yang diyakini memiliki kemampuan linuwih dibanding orang kebanyakan. Sepertinya beliau memiliki kemampuan  supra natural atau semacam indera keenam.
Tetapi keadaan sudah terlambat. Pak Mustangin sudah keburu masuk kelas. Setelah menuju meja guru dan meletakkan tas tanpa basa-basi beliau langsung menuju ke meja saya. Saya duduk di barisan paling depan. Selanjutnya tasku digeledah. Dan diambillah kitab Nick Carter-ku. Mukaku langsung terasa panas menahan malu.
Beliau membawa novel itu ke meja guru dan membacanya. Setelah membaca beberapa halaman beliau berdiri dan berkata kepada kami: " Baru membaca lima lembar halaman paling depan novel ini saja, sudah melebihi apa yang dilakukan saya dengan istri saya !". Tapi beliau berkata begitu tetap sambil senyum-senyum. Kata-kata beliau selanjutnya saya tidak ingat lagi. Mungkin karena aku kurang memperhatikan karena sedang merenungi nasib kenapa novel ini ketahuan pada saat berada di tasku. Kenapa tidak ketahuan saat berada di tas temanku yang minjem secara gratisan itu. Tapi mungkin hukuman pengedar memang harus lebih berat dari pemakai ya. Apes lagi ... Apes lagi ...
Tapi Pak, ngomong-ngomong Nick Carter yang episode BARAMANGA itu memang joroknya cuma ada di lima halaman terdepan saja Pak. Selanjutnya sich isinya cerita semua (apal bener aku ini ...). 

Rabu, 25 Mei 2011

Sebangku Tiga Sifat

Waktu itu kami bertiga, saya, Teguh sama Herdiyanto masih duduk di kelas 1 SMA. Kami bertiga duduk sebangku. Mungkin saat itu kami merasa senasib karena berasal dari SMP pinggiran.
Suatu hari Bu Indah, guru Fisika mengadakan ulangan mendadak. Kami bertiga menanggapi dengan cara berbeda sesuai dengan sifat masing-masing.
Herdiyanto : Tenang. Karena pelajaran ini memang kegemarannya. Untuk urusan Fisika, dia memang jagoannya. Lha wong buku latihan soal punya dia saja judulnya "Pengantar Teori  Thermodinamika Untuk Insinyur". Buatku buku seperti itu lebih menyeramkan dari novel horor karangan Abdullah Harahap. Ndak bakalan aku sentuh !!
Teguh : Kacau balau. Dia cemas dan bingung karena semalam tidak belajar sama sekali. Dia orangnya memang paling rajin belajar. Makanya prestasinya oke.
Aku : Tenang dan tetap kalem. Jangankan ulangan yang gak dikasih tahu. Orang yang sudah ada jadwalnya saja aku tetap gak belajar kok. Aku termasuk orang yang percaya banget sama takdir.
Sebelum ulangan dimulai kami mengatur strategi. Herdiyanto yang paling siap kami taruh di tengah. Dia akan kami manfaatkan sebagai narasumber. Saya dan Teguh sebagai pengamat (sekaligus menulis ulang di kertas ulangan kami).
Hitungan mundur dimulai. 5 .. 4 .. 3 .. 2 .. 1. Ulangan dimulai.
Herdiyanto mulai mengerjakan soal, kami berdua mulai lirak-lirik. Kelihatan banget Teguh bukan tukang contek profesional. Amatiran ! Gerak-geriknya ketahuan banget. Rupanya Bu Indah menangkap gelagat buruk ini. Beliaupun langsung mengambil tindakan represif. Herdiyanto langsung disuruh duduk di meja guru.
Tinggalah kami berdua. Dua orang berwajah bloon yang selama 45 menit pura-pura ngerjain soal untuk menutup-nutupi kebodohan kami.
Beberapa hari kemudian nilai hasil ulangan dibagi. Herdiyanto dapat 8,4. Paling tinggi sekelas. Aku dapat 1,5 dan jreng ... jreng ... Teguh dapat nilai nol ditambah bonus tanda tanya dari Bu Indah.
Herdiyanto tersenyum puas.
Aku tertawa terbahak-bahak.
Teguh menangis. Sungguh tiga tipe pria yang sangat berbeda.
Kenapa aku dapat nilai 1,5 sedangkan Teguh dapat nol. Itu karena aku adalah seorang profesional. Aku ikuti semua yang ditulis oleh Herdiyanto barengan saat dia ngerjain soal. Sedangkan Teguh walaupun maksudnya nyontek, tapi masih ada usaha mengerjakan soal sendiri. Jadi ketika Herdiyanto disuruh pindah aku sudah dapat paling tidak satu soal selesai. Sedangkan Teguh ? Kertas ulangan dia masih seputih salju. Hanya oret-oretannya yang ada tulisannya.
Tetapi rupanya peristiwa ini mengandung hikmah yang luar biasa buat kami bertiga.
Buat Herdiyanto: Dia menjadi semakin mencintai Fisika dan semakin giat belajar ...
Buat Teguh : Ini adalah titik balik buat dia. Sejak saat itu dia tidak pernah lalai belajar setiap hari. Sehingga setiap saat dia selalu siap menghadapi ulangan. Makanya prestasinya langsung melesat ...
Buat saya : Lain kali kalo nyontek saya akan lebih hati-hati dan lebih cepat biar tidak ketahuan dan nilainya juga lebih bagus ...

Senin, 23 Mei 2011

Tanjungsari

Setelah gagal mengajak teman saya Teguh saya balik ke tempat kost saya. Waktu itu saya ngekost di rumah salah satu sahabat terbaik saya Herdiyanto. Sampai sekarang kami tetap seperti sebuah keluarga saja rasanya.
Kami bersiap-siap berangkat. Segala peralatan yang perlu kami bawa kami susun dengan rapi.
Tunggu dulu ! Menurut Anda kira-kira peralatan apa yang akan kami bawa waktu itu ?
Apakah peralatan memasak semacam kompor, wajan, panci, dan lain-lain?
Atau peralatan keselamatan seperti tali, lampu senter, obata-obatan dan semacamnya ?
Oohh bukan ! Bukan peralatan model itu yang sedang kami persiapkan.
Mungkin terdengar ekstrim, tapi inilah peralatan yang akan kami bawa ke perkemahan di Tanjungsari :
1. Setruman ikan,
2. Jaring ikan, dan
3. Racun ikan (potasium/potas yang sebelumnya sudah kami beli di toko bahan kimia di daerah pasar Wonosobo).
Kami memang berencana mencari ikan dengan segala macam cara saat berkemah. Beberapa orang dari regu kami termasuk maniak dunia perikanan. Tiga orang yang terlibat aktif adalah saya, Herdiyanto dan Vendy. Saya yang akan menggunakan setruman dan Herdiyanto yang akan menggunakan jaring. Dialah yang paling berpengalaman dengan peralatan ini. Dia juga yang ahli dalam bidang perpotasan. Saya sendiri adalah ahli di bidang setrum-menyetrum ikan (sekarang saya sangat menentang penggunaan setrum, racun dan bom dalam mencari ikan karena mengancam kelestarian lingkungan).
Selesai memasang tenda, sore itu kami langsung mencari parit-parit yang potensial ada ikannya. Setelah ketemu kami mulai beraksi dengan menyebarkan bubuk potasium yang kami bawa. Hasilnya kami cuma memperoleh beberapa ekor ikan gabus (kothok). Kurang memuaskan.
Saat malam tiba giliran saya yang beraksi dengan setruman. Tapi di sini kami juga mengundang bintang tamu. Seorang penumpang gelap yang juga saudara saya, namanya Ondhot (yang membaca tulisan saya sebelumnya tentu tahu siapa dia beserta sepak terjangnya).
Dengan membawa lampu petromaks kami berempat meluncur ke TKP, yaitu di Kali Mangir. Penyetruman dimulai. Sampai dengan jarak 50 meter ikan yang kami peroleh masih sedikit. Setelah itu di satu lokasi di bawah rerimbunan pohon pisang barulah kami menemukan spot yang menghasilkan ikan berlimpah ruah. Kami senang sekali. Suara kegirangan terdengar dari kami semua.
Tapi, yang namanya perbuatan melanggar hukum dimanapun pasti tidak diridhoi. Itu juga berlaku bagi kami berempat.
Buktinya pas lagi rame-ramenya ikan hasil setruman kami dapat, tiba-tiba mak pet !!!
Lampu petromaks yang kami bawa mendadak mati. Yach ! Gagal dech panen raya malam itu. Akhirnya kami berempat balik ke tenda. Ikan yang kami peroleh seadanya kami goreng.
Rupanya malam itu Vendy teman kami agak kelaparan (atau doyan ya?). Dia tidak sabar menunggu ikan digoreng sampai matang. Dalam keadaan setengah matang ikan-ikan kecil dia ambil dari wajan. Ditiup-tiup dikit lalu dimakan. Enak banget kayaknya. Dingin-dingin makan ikan goreng panas, walaupun baru setengah matang. Setelah itu kami berangkat tidur.
Beberapa waktu setelah kejadian tersebut baru kami ketahui bahwa konon lokasi tempat lampu petromaks kami mati saat mencari ikan adalah tempat yang angker. Katanya memang sering ada kejadian aneh di tempat itu. Saya sich ga percaya. Hanya Tuhan yang tahu ...

Rupanya Sudah Menjadi Takdirnya ...

Selain waktu SD, temanku yang paling lama bareng dalam satu kelas adalah Teguh. Dua tahun di SMP dan 3 tahun di SMA sekelas terus (kalau ditambah setahun lagi mungkin kami berdua sudah muntah-muntah saking bosannya satu sama lain). Anaknya jago dalam pelajaran menghitung dan menghapal. Tapi dalam hal kesenian terutama di bidang seni rupa, alamaaaakk ... Kemampuanku jaman SD saja rasanya masih lebih bagusan. Orang waktu tugas Biologi bikin gambar rangka manusia saja jadinya malah gambar kerangka kodok kok. Saking rendahnya daya imajinasinya, kata dia satu-satunya wajah orang terkenal yang bisa dia bayangkan adalah wajah Menteri Keuangan pada waktu itu, yaitu Harmoko.
Tapi menurut saya ada satu kekurangan dalam dirinya untuk disebut sebagai pelajar sejati. Yaitu seumur hidupnya dia belum pernah ikut kemah. Menurut saya ini adalah sebuah kerugian besar. Seumur hidup belum pernah merasakan nikmatnya berkemah.
Saya harus merubah ini !!! Tekadku dalam hati.
Pada kesempatan pertama SMA kami mengadakan perkemahan di daerah Kembaran, teman saya ini absen karena sakit. Seperti sebuah kutukan saja rasanya.
Tapi kesempatan kedua itu akhirnya hadir juga. Beberapa bulan setelah perkemahan pertama, sekolah kami akan menyelenggarakan perkemahan di Tanjungsari. Tentu saja saya senang sekali. Lokasi itu dekat dengan rumah saya. Dan yang paling menyenangkan buat saya, Teguh teman saya dalam keadaan sehat wal'afiat. Jadi sepertinya tidak ada halangan lagi. Apalagi dia sudah menyatakan niatnya untuk ikut berkemah.
Kami akan menjadi satu regu. Dan sebagai bentuk dukungan buat dia, tugas yang diberikan buat dia adalah yang paling ringan di regu kami. Dia cuma kebagian membawa patok bambu saja. Tidak perlu membawa peralatan lainnya.
Perhitungan menuju hari H untuk sebuah pengalaman baru buat teman saya itu dimulai.
H-5 ... Oke,
H-4 ... Oke,
H-3 ... Oke,
H-2 ... Oke,
H-1 ... Oke ... Horeee .... Hari itu akan segera tiba ...
Yup ... Sepertinya semua sesuai rencana.
Dan di pagi hari pada hari H-nya (perkemahan berangkat siang hari jam 12.00) saya mendatangi dia di tempat kost.
Kejut Wiro tiada terperi ! Aku terpana !
Kulihat pemandangan yang cukup mengenaskan. Teguh, temanku yang rencananya hari itu untuk pertama kalinya akan mengikuti sebuah even perkemahan, keluar dari kamar dengan tangan digendong menggunakan kain.
Dia berkata: " Sorry Wid, aku tidak bisa ikut. Kemarin sore tanganku terkilir waktu main sepakbola !".
"Oh ya. Gak papa. Semoga lekas sembuh saja Guh", kataku.
" Ini patoknya dibawa saja, aku sudah membuatnya kemarin", tambahnya.
Atas peristiwa ini, aku tidak tahu siapakah yang lebih bersedih di antara kami berdua. Aku yang gagal menuntaskan misi membawa sahabatku berkemah untuk pertama kalinya atau dia yang gagal berkemah untuk ke sekian kalinya.
Sayapun pamitan dengan hati yang melow.
Dalam perjalanan pulang ke kost-kostan, kupandangi patok-patok bambu buatan Teguh yang dia titipkan kepadaku.
Harus aku akui, ini adalah patok bambu terjelek yang pernah saya lihat di dunia ini ...