Senin, 15 Agustus 2011

Nonton Chen Lung/Jacky Chen ... (Bagian Dua)

Setelah keluar dari gedung bioskop pikiranku berada dalam dilema. Seperti menghadapi buah simalakama. Bayangin saja, duit tinggal 550 rupiah tapi target nonton Chen Lung belum kesampaian. Padahal harga karcis untuk film utama adalah 500 rupiah. Sementara ongkos pulang adalah 200 rupiah.

Halangan lainnya adalah waktu itu sudah jam 3 sore. Kalo aku nekad nonton berarti aku akan keluar gedung film jam 5 sore. Jaman aku SD jam 5 sore, mencari angkutan tujuan Sepuran boleh dikata nyaris mustahil. Jadi andaikata setelah nonton aku masih punya ongkos untuk pulang, angkutannyapun belum tentu tersedia. Pilihannya adalah nonton film tapi ga bisa pulang atau pulang tapi ga jadi nonton bintang pujaan.
Namanya juga anak kecil, keputusan yang kuambil waktu itu adalah tetap menonton. Soal pulang pikir belakangan lah. Akhirnya aku nonton juga. Di dalam aku benar-benar bisa melupakan mega problem yang bakalan aku hadapai dalam hitungan waktu dua jam ke depan. Aksi bag big bug Chen Lung, Yen Piao dan Samo Hung membuat aku larut dan terlena dalam suka cita yang mendalam.
Tepat jam 5 sore film selesai dan aku keluar. Di sinilah petualangan baru di mulai. Duit di kantong tinggal 50 perak (terdiri dari 2 keping pecahan 25 rupiah gambar burung ...). Sementara perut lapar dan tidak ada ongkos pulang. Jarak ke rumah masih 16 kilometer dan hari mulai gelap.
Tapi tadi aku sudah mengambil keputusan dan sekarang harus berani menghadapi konsekuensinya. Aku bertekad akan berjalan kaki menuju Sapuran.
Alamak  ... Tak kuduga ! Waktu kecil dulu aku adalah seorang yang nekad dan berani mengambil keputusan. Kreeennn ...
Gambarannya situasinya adalah:
Seorang anak kecil kelas 5 SD, di hari yang sudah mulai gelap akan berjalan kaki sejauh 16 kilometer. Melintasi jalanan yang sepi (tahun 1983 kira-kira jalanan Wonosobo-Purworejo seperti apa sich ..) melewati kurang lebih 10 kuburan yang seram-seram. Tapi aku tetap nekad. Tidak ada perasaan takut atau pesimis.
Dan perjalanan panjang pun dimulai. Aku berjalan dengan sekuat tenaga menuju rumah. Sekitar setengah jam aku melewati kuburan pertama, yaitu Taman Makan Pahlawan Miriombo. Jarak yang kutempuh baru sekitar 3 kilometer. Tapi setelah melewati kuburan pertama ternyata keadaan sudah mulai tidak bersahabat. Hari sudah terlalu gelap. Aku bingung. Angkutan sudah tidak ada dan uang di kantongpun tinggal 50 perak.
Pikar-pikir ... pikar-pikir ... Tiba-tiba aku lihat ada bis Handayani dari kejauhan (saking jarangnya kendaraan, makanya dalam keadaan gelap saya bisa mendeteksi bahwa itu adalah bis Handayani). Bis ini adalah angkutan Wonosobo-Purworejo. Aku nekad menyetopnya dan bis itu berhenti. Entah karena cari penumpang atau karena kasihan lihat anak kecil sendirian malam-malam di dekat kuburan. Aku segera naik. Di dalamnya kosong. Rupanya bis itu bukanya cari penumpang, tetapi cuma mau pulang ke poolnya di Sapuran (Sapuran men ... Sapuran !!! Itu adalah rumahku! ). Jadi untung-untungan saja kalo pas dapat penumpang. Jam segitu memang hampir mustahil ada orang bepergian ...

Bersambung ...

4 komentar:

Mendoan mengatakan...

huahahaha....

WK-Wonosobo mengatakan...

Tunggu seri 3-nya. Trilogy Chen Lung. Ha .. ha .. ha ...

Anonim mengatakan...

nekat tenan.........

WK-Wonosobo mengatakan...

He .. he .. he ...
Episode selanjutnya : saya dijewer sama kepala sekolah ...