Selasa, 01 November 2011

Paspampers ...



13201215212009790114

1320120946872963467
Bobolnya pengawalan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) sebanyak 2 kali dalam rentang waktu cukup dekat semakin menunjukkan bahwa sudah tidak ada lagi ketegasan dan kedislipinan di lingkungan istana. Rentetan peristiwa yang mempermalukan kalangan istana tanpa satupun yang menerima sanksi menggambarkan dengan jelas bagaimana kepribadian sang penguasa istana.
Sesungguhnya peristiwa bobolnya pengawalan paspampres tidak sepenuhnya salah mereka Bagi mereka ngapain ngotot-ngotot bekerja kalau nyantai saja ga bakal diapa-apain.


Ambil contoh kasus Sekretaris Kabinet Dipo Alam dengan pernyataan kontroversialnya tentang anjuran boikot media, Heru Lelono dengan Blue Energy dan padi Supertoy-nya, Andi Malarangeng, Muhaimin Iskandar, si tukang ramal gempa Andi Arif, dan lain-lain. Kesalahan-kesalahan besar yang mereka lakukan tetap tidak membuat mereka dikeluarkan dari lingkungan istana.  Apalagi cuma masalah kebobolan penyusup, amaan ... amaaan ...
Begitu mungkin isi pikiran para anggota Paspampres. Dan memang sebagai manusia biasa mereka telah mengambil keputusan tepat berdasarkan prinsip ekonomi. Kerja sesantai-santainya yang penting gaji utuh.
Berulangnya kekonyolan demi kekonyolan yang terjadi menunjukkan bahwa tidak ada lembaga think tank handal di istana yang bertugas memberikan pertimbangan kepada presiden untuk merespon setiap isu dengan elegen. Yang ada adalah para pembisik yang terus-menerus menyodorkan naskah komedi yang akan menyuguhkan adegan pengundang gelak tawa (atau amarah) rakyat.
Coba seandainya ada seseorang yang cukup bijak yang memberi masukan tentang bagaimana cara menanggapi insiden sepeda onthel I Nyoman Minta. Misalnya pernyataan dari istana begini:
"Kejadian tersebut hanyalah kesalahpahaman saja. I Nyoman Minta telah mendapat ijin untuk berada di ring satu tetapi sebagian personel paspampres belum mendapatkan informasi". Pernyataan seperti ini akan mendinginkan suasana dan menghindarkan paspampres dari rasa malu.
Kalau begitu berarti istana memberikan pernyataan bohong donk? Yah begitulah ... Memangnya selama ini kita percaya sama pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan istana?
Sementara kejadian yang kita lihat justru aksi mereka yang kurang simpatik ketika dengan kasar menggiring I Nyoman Minta yang sudah kakek-kakek dan menginterogasinya. Kasihan sekali saya melihat raut muka beliau yang ketakutan. Yang paling apes tentu saja nasib Ikbal Sabaruddin. Dengan sedikit prinsip biar tekor asal nyohor dia nekad mencoba menerobos pengawalan paspampres sementara mereka masih dalam keadaan emosi yang tinggi akibat malu dengan insiden sebelumnya. Jadinya ya seperti yang kita lihat sama-sama, bonyok jadi sasaran kemarahan personel paspampres.
Adalah sangat mengherankan ketika menyaksikan Presiden SBY memilih meluncurkan album dari pada berkonsentrasi menyelesaikan masalah Papua yang sedang memanas. Tidak adakah orang di sekitar presiden yang memberikan masukan untuk menunda peluncuran album dan lebih memikirkan Papua ?
Untuk pertanyaan itu kemungkinan ada tiga jawaban:
1. Sudah ada yang memberi masukan tetapi tidak dituruti karena tidak menyenangkan hati presiden,
2. Presiden tidak tahu  masukan yang diberikan para pembisik salah dan menjerumuskan,
3. Presiden tahu ditipu para pembisiknya, tetapi Presiden memang suka dikibulin bawahannya dari pada mendengar kenyataan yang tidak menyenangkan ...
.
Wallahu 'Alam Bishawab ...

Tidak ada komentar: