Minggu, 07 Agustus 2011

Sandal Ilang ...

Jadi orang itu memang tidak boleh ngomong atau komentar sembarangan sebelum mengalaminya sendiri.Seperti kejadian waktu saya kuliah tingkat I. Waktu itu aku ikut kuliah kedinasan. Jadi gak ada biaya kuliah. Malahan kalo sudah tingkat II akan mendapat uang saku.

Tingkat I kost-ku bareng sama beberapa kakak kelas. Salah satunya adalah kakak kelasku yang bernama Eka. Karena sudah tingkat II dia sudah dapat uang saku dari negara. Jumlah sebulan sekitar Rp. 150.000,-. Nilainya untuk ukuran waktu itu tergolong besar. Mengingat rata-rata uang saku anak kuliah waktu itu adalah antara 45 - 75 ribu rupiah. Jadi dia sudah bisa hidup "berfoya-foya".
Suatu siang pulang dari mesjid "Al Abror" dia menggerutu. Rupanya dia habis kehilangan sendal jepitnya di mesjid.
Mendengar dia menggerutu aku komentar begini:
"Kehilangan sandal jepit saja menggerutu. Kan sudah dapat uang saku ..."..
"Tapi kan sebel juga !" kata dia.
"Kalo aku sudah dapat uang saku sich, kehilangan sendal jepit ga pakal aku pikirin dah ..." kataku.
"Hilang ... beli lagi ... hilang beli lagi ...". Begitu ceramahku sama dia. Diapun diam saja.
Kira-kira setahun kemudian waktu sudah dapat uang saku, aku mengalami kejadian yang sama dengan Eka temanku. Aku kehilangan sendal jepit di mesjid.
Rasanya aku sebal banget. Marah dan murka !
Dan ternyata, omelan dan umpatanku lebih parah dari temanku yang aku nasehati waktu dia kehilangan sendal jepit dulu ...
Rasanya tepat sekali peribahasa "Mulutmu adalah harimaumu ..." dialamatkan sama aku.

Tidak ada komentar: