Senin, 14 November 2011

Nonton Chen Lung/Jacky Chen 4 (Edisi Lengkap dr tetralogi Chen Lung)

Namanya juga anak desa, lihat film saja senengnya minta ampun. Ga usah filmya, lihat mobil keliling sama suaranya Pak Dharmo Munding nyiarin film yang mau diputer di gedung film saja sudah girang banget. Apalagi kalo sampai dikasih selebarannya. Luar biasa sensasinya. Serasa jadi orang penting.


Suatu hari saya melihat papan pemberitahuan film Sobo Theatre di Terminal Sapuran. Hari itu film yang diputar berjudul Dragon and Tiger. Bintang utamanya adalah Chen Lung (waktu itu namanya belum ganti menjadi Jacky Chen ). Dengan kemampuan Bahasa Inggris yang super minimalis saya masih bisa menebak bahwa itu artinya adalah naga dan harimau. Wuiihhhh ... Pasti seru sekali ini filmnya ... Film silate ini ... Film kung fu !!!
Apalagi yang main bintang pujaanku pula. Chen Lung. Pasti ramai. Aku langsung lari pulang ke warung. Aku minta uang sama ibukku untuk nonton film itu. Sebenarnya beliau keberatan aku nonton film sendirian ke Wonosobo. Tetapi karena aku ngedrel/merengek-rengek terus akhirnya aku dikasih uang 1.000 rupiah. Perinciannya 200 untuk ongkos angkutan bolak-balik Sapuran-Wonosobo. Yang 250 untuk beli karcis film dan sisanya untuk uang jajan.
Aku segera menuju ke Wonosobo dengan angkutan umum. Aku turun tepat di depan gedung film New Sobo Theatre (namanya pernah berubah menjadi Kemala Theatre). Saking pengennya nonton tanpa banyak buang waktu aku langsung beli karcis dan masuk ke gedung. Rupanya aku masih belum ketinggalan waktu. Di layar baru ditayangkan iklan-iklan (yang paling aku ingat adalah iklan Toko Buku Sukirman dan kursusan IEL Popbayo).
Habis itu diputer extra untuk beberapa potongan film yang akan ditayangkan hari berikutnya. Tapi ada yang aneh. Pada pemutaran slide yang terakhir ini kok pemutarannya lama banget. Judul filmnya Pengantin Pantai Biru. Filmnya jorok banget lagi (anak SD kan masih benci lihat adegan-adegan jorok). Dan film ini ternyata diputer terus gak selesai-selesai. Padahal aku sudah tidak sabar melihat aksi bintang pujaanku Chen Lung.
Dan setelah menunggu begitu lama, bukannya film Dragon and Tiger yang ditayangkan, tetapi malah keluar tulisan besar di layar : "S E K I A N ". Kemudian lampu di dalam gedung hidup semua tanda film sudah selesai. Rupanya ada sesuatu yang tidak saya ketahui di sini.
Begitu keluar gedung aku langsung menuju ke lobi gedung lagi untuk melakukan Cek & Ricek atas kejadian yang  baru saja terjadi.
Aku lihati papan pengumuman dan gambar-gambar filmya. Dan pecahlah misteri yang menyelimuti hatiku. Rupanya untuk jam satu siang adalah jadwal pemutaran film extra show. Film lama yang diputar kembali dengan harga karcis lebih murah. Harganya waktu itu adalah 250 rupiah. Dan hari itu film untuk extra show adalah "Pengantin Pantai Biru" yang kutonton tadi. Sialan ...
Setelah keluar dari gedung bioskop pikiranku berada dalam dilema. Seperti menghadapi buah simalakama. Bayangin saja, duit tinggal 550 rupiah tapi target nonton Chen Lung belum kesampaian. Padahal harga karcis untuk film utama adalah 500 rupiah. Sementara ongkos pulang adalah 200 rupiah.

Halangan lainnya adalah waktu itu sudah jam 3 sore. Kalo aku nekad nonton berarti aku akan keluar gedung film jam 5 sore. Jaman aku SD jam 5 sore, mencari angkutan tujuan Sepuran boleh dikata nyaris mustahil. Jadi andaikata setelah nonton aku masih punya ongkos untuk pulang, angkutannyapun belum tentu tersedia. Pilihannya adalah nonton film tapi ga bisa pulang atau pulang tapi ga jadi nonton bintang pujaan.
Namanya juga anak kecil, keputusan yang kuambil waktu itu adalah tetap menonton. Soal pulang pikir belakangan lah. Akhirnya aku nonton juga. Di dalam aku benar-benar bisa melupakan mega problem yang bakalan aku hadapai dalam hitungan waktu dua jam ke depan. Aksi bag big bug Chen Lung, Yen Piao dan Samo Hung membuat aku larut dan terlena dalam suka cita yang mendalam.
Tepat jam 5 sore film selesai dan aku keluar. Di sinilah petualangan baru di mulai. Duit di kantong tinggal 50 perak (terdiri dari 2 keping pecahan 25 rupiah gambar burung ...). Sementara perut lapar dan tidak ada ongkos pulang. Jarak ke rumah masih 16 kilometer dan hari mulai gelap.
Tapi tadi aku sudah mengambil keputusan dan sekarang harus berani menghadapi konsekuensinya. Aku bertekad akan berjalan kaki menuju Sapuran.
Alamak  ... Tak kuduga ! Waktu kecil dulu aku adalah seorang yang nekad dan berani mengambil keputusan. Kreeennn ...
Gambarannya situasinya adalah:
Seorang anak kecil kelas 5 SD, di hari yang sudah mulai gelap akan berjalan kaki sejauh 16 kilometer. Melintasi jalanan yang sepi (tahun 1983 kira-kira jalanan Wonosobo-Purworejo seperti apa sich ..) melewati kurang lebih 10 kuburan yang seram-seram. Tapi aku tetap nekad. Tidak ada perasaan takut atau pesimis.
Dan perjalanan panjang pun dimulai. Aku berjalan dengan sekuat tenaga menuju rumah. Sekitar setengah jam aku melewati kuburan pertama, yaitu Taman Makan Pahlawan Miriombo. Jarak yang kutempuh baru sekitar 3 kilometer. Tapi setelah melewati kuburan pertama ternyata keadaan sudah mulai tidak bersahabat. Hari sudah terlalu gelap. Aku bingung. Angkutan sudah tidak ada dan uang di kantongpun tinggal 50 perak.
Pikar-pikir ... pikar-pikir ... Tiba-tiba aku lihat ada bis Handayani dari kejauhan (saking jarangnya kendaraan, makanya dalam keadaan gelap saya bisa mendeteksi bahwa itu adalah bis Handayani). Bis ini adalah angkutan Wonosobo-Purworejo. Aku nekad menyetopnya dan bis itu berhenti. Entah karena cari penumpang atau karena kasihan lihat anak kecil sendirian malam-malam di dekat kuburan. Aku segera naik. Di dalamnya kosong. Rupanya bis itu bukanya cari penumpang, tetapi cuma mau pulang ke poolnya di Sapuran (Sapuran men ... Sapuran !!! Itu adalah rumahku! ). Jadi untung-untungan saja kalo pas dapat penumpang. Jam segitu memang hampir mustahil ada orang bepergian ...
Setelah naik ke atas bis seharusnya persoalan sudah selesai. Itu normalnya. Normal bagi orang-orang yang berpikiran normal. Waktu itu aku berpikir bahwa uang yang ada di kantong tinggal 50 rupiah. Padahal ongkos angkutan sampai rumah adalah 100 rupiah. Walaupun uang yang ada di kantong tidak cukup kan tinggal ngomong sama kernetnya nanti bayarnya kalo sudah sampai di tujuan. Enak kan ?
Tapi namanya juga pikiran anak kecil. Sepanjang perjalanan yang terpikir adalah sisa uang yang tidak cukup untuk bayar ongkos pulang. Dengan penuh kecemasan aku berpikir bagaimana cara mengatasi permasalahan ini.
Setelah memeras otak beberapa saat akhirnya aku menemukan solusi. Aku akan memilih turun di daerah Krakal, Kertek. Daerah ini terletak persis di tengah-tengah antara kota kelahiranku Sapuran dengan Wonosobo. Aku memilih akan turun di Krakal dengan pertimbangan bahwa di sana ada kenalan yang sudah akrab seperti saudara. Namanya Mak Jaelan. Aku akan menginap di sana.
Aku mengambil keputusan ini dan minta berhenti di Krakal tempat rumah Mak Jaelan. Setelah turun dari bis aku berjalan kaki menuju ke rumahnya. Sampai di depan rumah yang kutuju entah kenapa aku merasa malu waktu mau masuk. Jadinya bukannya mengetuk pintu dan masuk rumah, tetapi aku malah sliwar-sliwer jalan kaki bolak-balik di depan rumah Mak Jaelan. Persis gerak-gerik orang sedang bingung atau berpikir di film-film kartun. Maksudnya melakukan itu ya sambil menunggu yang empunya rumah keluar dan melihatku. Harapanku aku akan langsung disuruh masuk.
Tetapi sampai sekitar satu jam saya jalan kaki bolak-balik di depan rumah Mak Jaelan ga ada tanda-tanda salah satu dari penghuni rumah akan keluar. Tapi usaha yang gigih akan selalu menghasilkan sesuatu. Yang melihat gerak-gerikku yang mencurigakan bukan keluarga Mak Jaelan, tetapi justru salah satu tetangganya.
Melihat anak kecil jalan bolak-balik di depan rumah, dia (cewek) keluar dan masuk ke rumah Mak Jaelan. Beberapa saat kemudian seluruh isi rumah Mak Jaelan keluar. Pak Jaelan, Mak Jaelan, Iim dan Tarti keluar menyambut dan menjemputku di luar rumah.
Sungguh sebuah peristiwa yang cukup mengharukan buatku waktu itu. Dari kondisi anak kecil yang kedinginan, kelaparan, kesepian dan butuh pertolongan menjadi bak pangeran kecil yang disambut penuh suka cita. Saya tidak tahu ada apa dengan keluarga Mak Jaelan. Mengapa mereka sekeluarga begitu menyayangi aku.
Akupun langsung disuruh mandi dengan air hangat. Kemudian disuruh makan. Lahap dan enak banget aku makan waktu itu. Selanjutnya mereka bertanya kenapa malam-malam aku bisa ada di depan rumah mereka. Yach ... Daripada malu karena ketahuan telah membuat keputusan bego terpaksa aku berbohong.
Aku ngarang cerita tetapi tetap tidak melenceng jauh dari kenyataan. Aku bilang bahwa aku nonton film. Habis nonton film ternyata uang sakuku hilang 500 rupiah dan yang tertinggal di kantong tinggal 50 rupiah saja. Mereka percaya saja sama ceritaku.
Situasi saat mereka mendengarkan ceritaku laksana orang-orang yang menunggu kisah dari seorang tokoh yang pulang dari pengembaraanya. Mereka mengitari aku dan dengan telaten mendengar ceritaku. Aku benar-benar merasa menjadi orang penting. Setelah puas berbincang-bincang akhirnya kami berangkat tidur. Aku tidur bareng dua anak gadisnya Mak Jaelan yang cantik-cantik. Yaitu Iim dan adiknya Tarti. Waktu itu aku tidurnya diapit oleh mereka berdua (Waahh ... Kalo kejadiannya sekarang, bahaya banget tuh ...).

Belum berapa lama kami berbaring terdengar suara mobil truk yang berhenti di dekat rumah. Kemudian ada suara orang mengetuk pintu. Aku sudah curiga siapa yang datang. Dan benar saja dugaanku.
Yang datang adalah orang yang paling menyayangi dan paling kusayangi dalam hidupku. Ibuuukkkk !!!
Malam itu beliau cemas memikirkan aku yang ga pulang-pulang. Jadi dia ngajak Pak Oto (Pak Oto ini adalah Pak Oto yang lain dengan Pak Oto yang sebelumnya sudah aku sebut. Aku punya dua Pak Lik yang bernama Pak Oto. Yang satu adiknya ibuku dan yang satu adiknya bapakku. Aneh kan ??). Dengan menggunakan mobil truk punya mbahku ibu dan Pak Oto mencariku.
Aku sudah tahu pasti ibukku cemas memikirkanku. Apalagi malam itu di daerah Siroto, Kepil tengah ada desas-desas ada orang yang mau berkelahi melawan harimau. Jadi banyak orang yang percaya sama takhayul banyak yang tertarik untuk menyaksikan. Ibu yang paham bahwa walaupun aku masih kecil, aku tidak pernah percaya sama segala macam takhayul. Yang beliau khawatirkan adalah aku naik bis jurusan Magelang lalu ketiduran. Selanjutnya aku terbawa sampai ke Magelang dan kehabisan uang saku lalu menggelandang di kota getuk itu.
Perpaduan antara ikatan batin antara seorang ibu dan anak dengan otak beliau yang memang encer membuat ibuku langsung berhasil menemukanku pada percobaan pertama mencari keberadaanku di luar kota Sapuran. Malam itu aku pulang dengan ibu dan Pak Lik. Aku dan ibu bahagia banget. Tentu saja ibu lebih bahagia dari aku. Tidak bisa dan tidak akan pernah bisa kubayangkan rasa cemas seorang ibu yang khawatir kehilangan anaknya. Dan tidak bisa juga aku menggambarkan rasa bahagia seorang ibu yang menemukan anaknya kembali.
Akhirnya semua berakhir bahagia. Sampai di rumah aku jadi bahan tertawaan orang serumah.
Esoknya aku berangkat sekolah. Seperti biasanya hari Senin didahului dengan upacara. Satu jam upacara selesai tiba-tiba kupingku dijewer orang kemudian aku ditarik ke belakang.
Setelah aku lihat ternyata yang menjewer adalah Pak Gatot, Kepala Sekolah kami.
Sambil masih menjewer telingaku beliau bicara begini:
"Mambengi mayeng nangndi ? Nyong nganti diseneni ibune de'e ...".
("Tadi malam kelayapan kemana ? Aku sampai dimarahi ibumu ...").
Wuahahaaa ...
Rupanya ibuku tadi malam mencariku sampai ke rumah guru dan kepala sekolahku. Malahan sempat marah-marah di depan kepala sekolahku segala (Beliau dengan ibuku adalah teman akrab).
Maaf ya Pak Gatot ...
Murid yang satu ini memang agak sedikit nakal ... (Tapi banyak bandelnya ...).
Selesai ...

5 komentar:

Cak Nuril mengatakan...

Hahaha....kalau di daerahku kalau nggak film warung kopinya DKI ya nyi roro kidulya suzana.hehehe hustff jangan rame2 biasanya juga ya kalau udah tengah malem malah diputerin film SEMI sex malahan wah3x hehehe dulu tapi hehehehe

Cak Nuril mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
WK-Wonosobo mengatakan...

Tempatku itu masih nomor dua sama nomor tiga. Kalah sama film-filmnya Bang Haji Rhoma Irama ...

Unknown mengatakan...

Bagus saya setuju

Unknown mengatakan...

Emang jujur saya akui pernah menyaksikan bioskop tercanggih saat ini yg salah satunya ada di XXI IMAX 3D gandaria city......tapi saya lebih penasaran dgan bioskop tempo dlu.....yg cm saya denger denger aj di kampung kelahiran saya....wonosobo.....