Sabtu, 03 Desember 2011

Tombak Pembelah Bumi ...

Waktu kegiatan Karang Taruna lagi ngetop saya masih SD. Salah satu kegiatan untuk mencari dana yang diadakan oleh Karang Taruna adalah dengan melakukan pemutaran film di dalam gedung dengan memungut biaya. Biasanya pemutaran dilakukan di gedung Balai Desa dan harta karcisnya Rp. 500,-.
Salah satu filmnya yang mereka putar sangat menghibur para penonton. Film laga silat. Kalau ga salah judul filmnya Panji Tengkorak. Film itu menjadi idola dan terus diceritakan keesokan harinya karena untuk pertama kali kami menonton special effect di mana para pendekarnya bisa mengeluarkan sinar dari pukulannya (kalo sekarang sich sudah bosen banget lihat di Indosiar).
Pokoknya seperti kata Tukul. Puas !!! Puas !!! Puas !!!

Beberapa waktu kemudian ada kelompok Karang Taruna dari desa tetangga yang juga ngadain acara pemutaran film. Rupanya waktu itu para pengurus Karang Taruna memang lagi demam muter film buat cari dana. Judul filmya adalah "Tombak Pembelah Bumi". Melihat judulnya yang sangat menjanjikan di tambah sisa-sisa euphoria kami yang masih tersisa karena menonton film Panji Tengkorak yang super seru itu, kami serombongan jalan kaki menuju lapangan Si Lento (mbacanya jangan terbalik lho) yang jaraknya kurang lebih 2 kilo meter.
Dari judulnya kami berharap disuguhi laga silat klasik yang tak kalah serunya dengan film Panji Tengkorak. Paling tidak mendekati dikit ga papalah. Yang penting dari tangan pendekarnya bisa keluar sinar pukulan warna-warni. Jadi tidak sia-sia perjalanan kaki kami di malam hari menempuh jarak 2 km. Eh film ini diputernya di lapangan loh. Jadi ya sama saja misbar. Kalo gerimis bubar. Untungnya malan itu tidak turun hujan.
Setelah menunggu agak lama akhirnya film diputer. Dan sudah sejak dari awal hati kami sudah masgul. Sepertinya ada yang tidak beres dengan judul filmya. Sepertinya film ini tudak sesuai dengan harapan kami. Itu sudah terlihat dari adegan pertama.
Gambar yang muncul pertama kali adalah seseorang yang sedang mengendarai sebuah sedan warna putih. Jelas harapan tentang sebuah film laga silat klasik sudah musnah dari harapan kami. Tapi masih berharap bahwa itu hanyalah iklan untuk film berikutnya atau operator salah ambil roll film. Jadi yang terputar adalah film lain.
Tapi harapan tinggal harapan. Ternyata memang itulah film "Tombak Pembelah Bumi". Film yang judulnya lebih pantas untuk film laga silat klasik ternyata adalah film yang mirip dengan sinetron-sinetron murahan yang sekarang membanjiri televisi.
Sepanjang film tidak ada satupun pemain yang memegang tombak. Bahkan sekedar tombak untuk hiasan dinding rumahpun tidak ada. Akhirnya kami pulang dengan langkah gontai. Pulang jalan kaki sejauh 2 km di malam hari dengan lemah lunglai.
Kalau kejadiannya sekarang, bisa-bisa dituntut ke YLKI tuh sutradara sama produsernya dengan tuduhan penipuan. Produk tidak sesuai dengan spesifikasi ...

1 komentar:

Man Ying mengatakan...

Kok Sama dengan kisahq ya???? aq lahir tahun 88 di kalimantan tengah.kalau di daerahq pemutaranya di tanah lapang asyik sambil bawa makanan dan tiker dari rumah hehehe