Selasa, 24 Mei 2011

Surodilogo Kelabu - The Series (Edisi Lengkap)


Setiap malam 1 Suro, di Wonosobo ada satu tempat pariwisata yang sangat ramai dikunjungi orang. Tempat itu dinamai Surodilogo. Terletak di lereng gunung Sindoro. Di tempat ini terdapat semacam sendang/mata air yang memiliki mitos bahwa barang siapa yang cuci muka atau mandi di sendang itu pada malam 1 Suro, maka dia akan kelihatan awet muda.

Senin, 23 Mei 2011

Tanjungsari

Setelah gagal mengajak teman saya Teguh saya balik ke tempat kost saya. Waktu itu saya ngekost di rumah salah satu sahabat terbaik saya Herdiyanto. Sampai sekarang kami tetap seperti sebuah keluarga saja rasanya.
Kami bersiap-siap berangkat. Segala peralatan yang perlu kami bawa kami susun dengan rapi.
Tunggu dulu ! Menurut Anda kira-kira peralatan apa yang akan kami bawa waktu itu ?
Apakah peralatan memasak semacam kompor, wajan, panci, dan lain-lain?
Atau peralatan keselamatan seperti tali, lampu senter, obata-obatan dan semacamnya ?
Oohh bukan ! Bukan peralatan model itu yang sedang kami persiapkan.
Mungkin terdengar ekstrim, tapi inilah peralatan yang akan kami bawa ke perkemahan di Tanjungsari :
1. Setruman ikan,
2. Jaring ikan, dan
3. Racun ikan (potasium/potas yang sebelumnya sudah kami beli di toko bahan kimia di daerah pasar Wonosobo).
Kami memang berencana mencari ikan dengan segala macam cara saat berkemah. Beberapa orang dari regu kami termasuk maniak dunia perikanan. Tiga orang yang terlibat aktif adalah saya, Herdiyanto dan Vendy. Saya yang akan menggunakan setruman dan Herdiyanto yang akan menggunakan jaring. Dialah yang paling berpengalaman dengan peralatan ini. Dia juga yang ahli dalam bidang perpotasan. Saya sendiri adalah ahli di bidang setrum-menyetrum ikan (sekarang saya sangat menentang penggunaan setrum, racun dan bom dalam mencari ikan karena mengancam kelestarian lingkungan).
Selesai memasang tenda, sore itu kami langsung mencari parit-parit yang potensial ada ikannya. Setelah ketemu kami mulai beraksi dengan menyebarkan bubuk potasium yang kami bawa. Hasilnya kami cuma memperoleh beberapa ekor ikan gabus (kothok). Kurang memuaskan.
Saat malam tiba giliran saya yang beraksi dengan setruman. Tapi di sini kami juga mengundang bintang tamu. Seorang penumpang gelap yang juga saudara saya, namanya Ondhot (yang membaca tulisan saya sebelumnya tentu tahu siapa dia beserta sepak terjangnya).
Dengan membawa lampu petromaks kami berempat meluncur ke TKP, yaitu di Kali Mangir. Penyetruman dimulai. Sampai dengan jarak 50 meter ikan yang kami peroleh masih sedikit. Setelah itu di satu lokasi di bawah rerimbunan pohon pisang barulah kami menemukan spot yang menghasilkan ikan berlimpah ruah. Kami senang sekali. Suara kegirangan terdengar dari kami semua.
Tapi, yang namanya perbuatan melanggar hukum dimanapun pasti tidak diridhoi. Itu juga berlaku bagi kami berempat.
Buktinya pas lagi rame-ramenya ikan hasil setruman kami dapat, tiba-tiba mak pet !!!
Lampu petromaks yang kami bawa mendadak mati. Yach ! Gagal dech panen raya malam itu. Akhirnya kami berempat balik ke tenda. Ikan yang kami peroleh seadanya kami goreng.
Rupanya malam itu Vendy teman kami agak kelaparan (atau doyan ya?). Dia tidak sabar menunggu ikan digoreng sampai matang. Dalam keadaan setengah matang ikan-ikan kecil dia ambil dari wajan. Ditiup-tiup dikit lalu dimakan. Enak banget kayaknya. Dingin-dingin makan ikan goreng panas, walaupun baru setengah matang. Setelah itu kami berangkat tidur.
Beberapa waktu setelah kejadian tersebut baru kami ketahui bahwa konon lokasi tempat lampu petromaks kami mati saat mencari ikan adalah tempat yang angker. Katanya memang sering ada kejadian aneh di tempat itu. Saya sich ga percaya. Hanya Tuhan yang tahu ...

Surodilogo Kelabu 2

Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan Surodilogo Kelabu sebelumnya.
Bisa dibayangkan. Empat anak kecil berada di lereng gunung yang dingin tanpa bekal makanan, minuman ataupun sekedar selimut saja. Bahkan pakaian yang dikenakanpun seadanya.
Ketika malam tiba kami kami berjalan-jalan kesana kemari. Lemas dan lapar. Melihat penjual jagung bakar gigit jari. Melihat penjual wedang jahe, cuma bisa kepingin. Lihat penjual bakso. ngiler. Akhirnya saking laparnya kami membuat keputusan. Kami harus survive. Kami harus hidup untuk menceritakan semua ini kepada dunia.

Rupanya Sudah Menjadi Takdirnya ...

Selain waktu SD, temanku yang paling lama bareng dalam satu kelas adalah Teguh. Dua tahun di SMP dan 3 tahun di SMA sekelas terus (kalau ditambah setahun lagi mungkin kami berdua sudah muntah-muntah saking bosannya satu sama lain). Anaknya jago dalam pelajaran menghitung dan menghapal. Tapi dalam hal kesenian terutama di bidang seni rupa, alamaaaakk ... Kemampuanku jaman SD saja rasanya masih lebih bagusan. Orang waktu tugas Biologi bikin gambar rangka manusia saja jadinya malah gambar kerangka kodok kok. Saking rendahnya daya imajinasinya, kata dia satu-satunya wajah orang terkenal yang bisa dia bayangkan adalah wajah Menteri Keuangan pada waktu itu, yaitu Harmoko.
Tapi menurut saya ada satu kekurangan dalam dirinya untuk disebut sebagai pelajar sejati. Yaitu seumur hidupnya dia belum pernah ikut kemah. Menurut saya ini adalah sebuah kerugian besar. Seumur hidup belum pernah merasakan nikmatnya berkemah.
Saya harus merubah ini !!! Tekadku dalam hati.
Pada kesempatan pertama SMA kami mengadakan perkemahan di daerah Kembaran, teman saya ini absen karena sakit. Seperti sebuah kutukan saja rasanya.
Tapi kesempatan kedua itu akhirnya hadir juga. Beberapa bulan setelah perkemahan pertama, sekolah kami akan menyelenggarakan perkemahan di Tanjungsari. Tentu saja saya senang sekali. Lokasi itu dekat dengan rumah saya. Dan yang paling menyenangkan buat saya, Teguh teman saya dalam keadaan sehat wal'afiat. Jadi sepertinya tidak ada halangan lagi. Apalagi dia sudah menyatakan niatnya untuk ikut berkemah.
Kami akan menjadi satu regu. Dan sebagai bentuk dukungan buat dia, tugas yang diberikan buat dia adalah yang paling ringan di regu kami. Dia cuma kebagian membawa patok bambu saja. Tidak perlu membawa peralatan lainnya.
Perhitungan menuju hari H untuk sebuah pengalaman baru buat teman saya itu dimulai.
H-5 ... Oke,
H-4 ... Oke,
H-3 ... Oke,
H-2 ... Oke,
H-1 ... Oke ... Horeee .... Hari itu akan segera tiba ...
Yup ... Sepertinya semua sesuai rencana.
Dan di pagi hari pada hari H-nya (perkemahan berangkat siang hari jam 12.00) saya mendatangi dia di tempat kost.
Kejut Wiro tiada terperi ! Aku terpana !
Kulihat pemandangan yang cukup mengenaskan. Teguh, temanku yang rencananya hari itu untuk pertama kalinya akan mengikuti sebuah even perkemahan, keluar dari kamar dengan tangan digendong menggunakan kain.
Dia berkata: " Sorry Wid, aku tidak bisa ikut. Kemarin sore tanganku terkilir waktu main sepakbola !".
"Oh ya. Gak papa. Semoga lekas sembuh saja Guh", kataku.
" Ini patoknya dibawa saja, aku sudah membuatnya kemarin", tambahnya.
Atas peristiwa ini, aku tidak tahu siapakah yang lebih bersedih di antara kami berdua. Aku yang gagal menuntaskan misi membawa sahabatku berkemah untuk pertama kalinya atau dia yang gagal berkemah untuk ke sekian kalinya.
Sayapun pamitan dengan hati yang melow.
Dalam perjalanan pulang ke kost-kostan, kupandangi patok-patok bambu buatan Teguh yang dia titipkan kepadaku.
Harus aku akui, ini adalah patok bambu terjelek yang pernah saya lihat di dunia ini ...

Upacara

Ini terjadi pada waktu saya kelas 1 SMP di SMP 2 Purworejo. Saya dan teman saya Fajar termasuk anak yang senang banget bergurau. Di mana saja berada kami berdua selalu ribut bergurau.Kebiasaan itu rupanya terbawa sampai ke kegiatan yang seharusnya kami berdua diam dan tertib.

Minggu, 22 Mei 2011

Sabtu, 21 Mei 2011

Preman saja kami isengin ...

Di daerah asal saya adalah seorang preman (jaman dulu kami menyebutnya GALI) yang paling terkenal dan legendaris. Sebut saja namanya Bruno (disamarkan). Dia juga seorang residivis yang sering keluar masuk penjara. Penjambretan, perampokan (nggarong), pencurian, perjudian, mabok-mabokan adalah aktifitas yang biasa buat dia. Hampir setiap hari dia mangkal di terminal. Dan saya adalah salah satu penduduk tetap di terminal itu. Rumah saya juga berfungsi sebagai warung makan.

Jumat, 20 Mei 2011

Perjalanan ...

Start menuju pendaftaran STAN kami mulai dari Wonosobo. Berdua teman saya yang bernama Komari (jagoan  Bahasa Inggris saat ahlinya waktu itu masih langka).
Menginap sebentar di Purwokerto di daerah Grendeng tempat kost sahabat saya Herdiyanto. Beberapa hari kemudian kami berangkat ke Jakarta dari terminal Purwokerto.
Waktu itu kami naik bus Putri Jaya. Sebenarnya rencananya kami naik bus lain, tapi karena ditawari harga murah akhirnnya kami naik juga. Tapi ya itu, ngetemnya lama banget. Tidak terhitung berapa pengamen dan pedagangan asongan yang menyambangi kami (kalau gini terus bisa-bisa ludes nich uang saku kami ...).
Saking bosannya menunggu bus berangkat, kami, antar penumpang yang sebelumnya gak saling kenal sampai jadi akrab. Sudah seperti saudara senasib sepenungguan saja rasanya.
Akibat durasi ngobrol yang begitu lama, dengan berbagai topik hangat maupun dingin, akhirnya kami sampai pada topik paling sensitif dan kontroversial.
Apa itu ?
Harga Karcis !!
Dari hasil bincang-bincang kami itulah ketahuan bahwa ternyata kepada masing-masing penumpang dikenakan tarip yang berbeda-beda. Dan kami mendapat yang termurah. Akibatnya semua penumpang selain kami berdua mengajukan protes kepada kondektur minta uang dikembalikan.
Mau tidak mau kondektur mengembalikan kelebihan uang penumpang yang sudah terlanjur dibayar. Mukanya kelihatan kecut, marah dan kecewa.
Perasaan saya sama temen saya gak enak banget sepanjang perjalanan Purwokerto-Jakarta. Punggung, muka dan telapak tangan saya berkeringat dingin menahan perasaan malu dan gak enak. Kami merasa menjadi penyebab kerugian yang diderita Pak Kondektur.
Maaf ya Pak Kondektur. Moga-moga dapat rejeki lain yang halal ...

Karakter Kemahasiswaan Saya

Kulian di STAN sebenarnya bukan keinginan saya. Motivasi utama saya saat itu hanyalah pengen merasakan kenikmatan kuliah gratis bahkan mendapat uang saku. Pada saat milih jurusanpun aku kebingunan.
Ini nih pilihan yang ada waktu itu:

1. Bea Cukai  ( Weleh ... Kantor apaan ini. Kayaknya ga kenal banget ...)
2. Anggaran  (Apalagi yang ini. Lebih tidak terkenal lagi. Ngurusi atlet anggar kali ya ...)
3. Pegadaian (Walah ... Yang ini kantornya ada di belakang rumahku. Sepertinya gak keren sama sekali. Masak jauh-jauh kuliah di Jakarta hanya disuruh ngurusin jarik/kain, kenceng sama dandang. Ndak ! Ndak !)
4. Pajak (Yang ini kantornya ada di mana yach ? Tapi kata-kata pajak sepertinya sering aku dengar. Walaupun dengan nada getir dan sinis. Sim salabim ! Pilih yang ini saja aah ...).
Begitulah ... Akhirnya aku terdampar di jurusan yang satu ini.

(Padahal kalo sekarang ditugaskan jadi pesuruh di Pegadaian yang kantornya di belakang rumah, saya pasti mau lho ...)

Rabu, 18 Mei 2011

Pipis Berantai

Saat SD/SMP dulu kami suka menonton jaran kepang/kuda lumping,wayang kulit atau orkes dangdut. Karena saat itu sarana hiburan masih jarang, maka dimanapun tontonan itu berada kami akan mendatanginya. Tidak peduli jalan kaki sejauh 10 km di malam hari. Kami dengan telaten memasang mata dan telinga. Menyebar telik sandi di sana-sini untuk memantau di mana ada pertunjukan jaran kepang, wayang kulit atau dangdutan akan digelar. Kami bagaikan pasukan penjarah atau gerombolan heyna yang mencari mangsa dimanapun hiburan digelar.