Selasa, 24 Mei 2011

Surodilogo Kelabu - The Series (Edisi Lengkap)


Setiap malam 1 Suro, di Wonosobo ada satu tempat pariwisata yang sangat ramai dikunjungi orang. Tempat itu dinamai Surodilogo. Terletak di lereng gunung Sindoro. Di tempat ini terdapat semacam sendang/mata air yang memiliki mitos bahwa barang siapa yang cuci muka atau mandi di sendang itu pada malam 1 Suro, maka dia akan kelihatan awet muda.
Saya sich gak pernah percaya sama mitos-mitos model begituan. Buktinya temen-temenku yang dulu pada mandi sama cuci muka di mata air Surodilogo sekarang sudah pada tua dan ubanan semua. Buatku yang penting adalah aura pariwisata yang muncul setiap malam 1 Suro di daerah itu sehingga sangat cocok untuk camping dan berkemah.
Pada waktu aku kelas 4 SD, untuk pertama kalinya saya akan memulai petualangan saya di Surodilogo.
Atas ajakan dua teman sekelas, saya dan saudara saya akan mengalami petualangan yang cukup seru.
Dimulai dengan persiapan yang sangat detail dan matang yaitu:
1. Gak bawa duit,
2. Gak bawa bekal makanan,
3. Gak izin orang tua (karena bapak dan ibu sedang pergi dan menginap di Purworejo, makanya gak bawa duit dan makanan),
4. Gak bawa selimut,
5. Cuma pakai baju biasa dan celana pendek,
6. Satu-satunya barang yang dibawa hanyalah benda yang kemudian hanya menjadi beban saja, yaitu tongkat pramuka.
Petualangan dimulai dengan berjalan kaki dari Sepuran-Kertek sejauh 8 km. Dilanjutkan ke gerbang jalan masuk ke Surodilogo di daerah Prombanan sejauh 3 km dan seterusnya kami mendaki ke Surodilogo.
Diperjalanan awal saja sebenarnya sudah ada masalah. Jalan kaki 8 km oleh anak kelas 4 SD tentunya memerlukan asupan air dan makanan yang cukup. Tapi karena yang kami bawa saat itu hanyalah tongkat ya terpaksalah kami menahan lapar. Untuk mengatasi rasa haus kami minum dari sungai yang banyak terdapat di pinggir jalan raya.
Tapi kami sama sekali tidak ada pikiran untuk menyerah (saya tidak tahu apakah ini wujud dari kekuatan tekad atau justru bentuk dari ketololan kami). Kami tetap melanjutkan perjalanan. Empat sekawan yang pantang menyerah. Berangkat jam 2 siang, setelah perjalanan kurang lebih 3-4 jam akhirnya kami tiba di TKP dengan kaki pegal-pegal kesemutan sekitar jam 6 atau jam 7 malam.. Tempat itu sudah sangat ramai.
Masalah berikutnya mulai mendera, dengan tanpa bekal uang dan makanan sama sekali ditambah dengan pakaian ala kadarnya yaitu baju dan celana pendek maka kamipun mulai memanen hasil kebodohan kami sendiri. Serangan lapar dan dingin mulai mengintai.


Bisa dibayangkan. Empat anak kecil berada di lereng gunung yang dingin tanpa bekal makanan, minuman ataupun sekedar selimut saja. Bahkan pakaian yang dikenakanpun seadanya.
Ketika malam tiba kami kami berjalan-jalan kesana kemari. Lemas dan lapar. Melihat penjual jagung bakar gigit jari. Melihat penjual wedang jahe, cuma bisa kepingin. Lihat penjual bakso. ngiler. Akhirnya saking laparnya kami membuat keputusan. Kami harus survive. Kami harus hidup untuk menceritakan semua ini kepada dunia.
Kamipun berpikir untuk mendapatkan makanan untuk menghilangkan rasa lapar. Pasang mata pasang telinga. Empat sekawan beraksi. Setelah kami perhatikan, ternyata ada sumber makanan yang cukup berlimpah di sekitar kami. Yaitu jagung bakar yang dibuang pembelinya karena tidak habis dimakan. Sisa-sisa jagung bakar banyak bertebaran di sepanjang jalanan di lokasi tersebut.
Tengok sana ... tengok sini ...
Yakin ga ada yang melihat kamipun mengambil jagung bakar di jalanan. Kami makan dengan lahap. Uenake puooll. Walapun ada sedikit rasa tanah dan pasir. Minumnya cukup dari parit-parit yang masih bening.
Setelah cukup kenyang kami berjalan turun menuju lapangan.
Dalam perjalanan itu kami berempat melihat sebuah plastik bening tergeletak di tengah jalan. Di dalamnya tampak sebutir kacang telur yang sangat menggoda. Adrenalin kami berempat tiba-tiba meningkat tajam. Kami seperti empat cowboy yang bersiap-siap mencabut pistol untuk saling menembak.
Selanjutnya ... Gabruk !!!. Gabruk !!! Gabruk !!!
Kami berempat saling tubruk rebutan mengambilnya.
Dan saya keluar sebagai pemenangnya. Akhirnya sebutir berlian itu menjadi milikku. Sebutir kacang telur paling enak dalam hidupku.
Perjalanan dilanjutkan. Target selanjutnya adalah mencari tempat untuk tidur. Pertama-tama kami mencoba tidur di batu-batu besar yang banyak terdapat di situ. Baru beberapa menit mencobanya kami sudah menggigil kedinginan. Kamipun segera bangun dan mencari lokasi lain yang lebih nyaman. Secara tidak sengaja kami bertemu dengan teman sekampung kami. Malam itu akhirnya kami mendapat tempat berteduh. Untel-untelan. Berdesak-desakan. Kami tidak peduli. Yang penting ada tempat untuk bernaung malam ini.
Tetapi jangan dikira kami sudah mendapatkan kenyamanan. Malam itu kami tidur dengan pakaian seadanya tanpa jaket tanpa selimut. Saat itu pakaian kami terasa seperti basah tersiram air es. Dingin luar biasa. Malam terasa panjang banget pokoknya. Pikiran kami hanya ingin pagi segera tiba dan kami akan cepat-cepat pulang ke rumah.

Pagi yang kami tunggu-tunggu akhirnya hadir juga.
Kami langsung berkemas-kemas bersiap untuk pulang (emangnya apa yang mau dikemasin, datang tanpa bekal, pulang tanpa bayar gitu).
Dengan tubuh lemas kurang makan kurang tidur kami berempat pulang. Dengan sisa tenaga yang kami miliki kami menempuh jarak sekitar 20 km menuju rumah dengan berjalan kaki.
Sekitar 3 jam kemudian akhirnya kami berhasil sampai di perbatasan desa kami. Kami gembira sekali. Saya dan saudara saya (namanya Sarno), akan segera mengambil jalan berpisah dengan kedua teman yang mengajak kami karena rumah kami memang beda kampung. Tetapi sebelum berpisah kedua teman saya itu menyempatkan diri mampir ke toko yang ada di pinggir jalan untuk membeli makanan.
Haahh .... !!!!!!
Membeli makanan .... ?????
Berarti selama ini sebenarnya mereka bawa uang ... !!!
Tapi mereka tetap tidak mau menggunakan walaupun keadaan kami kritis ... !!!
Kurang ajaarrrrrr ... !!!

(Ini hanya ungkapan saya waktu itu. Saat ini kejadian itu justru menjadi peristiwa lucu yang cukup berharga untuk diceritakan. Setuju ga teman-teman ...)

Tidak ada komentar: