Selasa, 03 April 2012

Harga Bensin Seharusnya Rp. 9000,- ...



Pemerintah batal menaikkan  harga BBM jenis premium dari Rp. 4.500,- menjadi Rp. 6.000,-. Walaupun sifatnya hanya menunda tetapi sungguh sangat disayangkan. Karena akan lebih bayak lagi dana yang terbuang percuma untuk membiayai subsidi BBM yang tidak tepat sasaran karena kebanyakan justru dinikmati oleh kalangan berada.
Saya termasuk orang yang menilai bahwa Pemerintah melakukan kesalahan jika harga premium dinaikkan menjadi Rp. 6.000,-. Karena seharusnya harga premium untuk kendaraan pribadi idealnya adalah Rp. 9.000,-. Jadi kalau dengan menaikkan harga premium menjadi Rp. 6.000,- pemerintah akan menghemat biaya subsidi sebesar Rp. 48 trilyun, maka dengan menaikkan harga premium menjadi Rp. 9.000,- dana subsidi yang dihemat dapat mencapai angka Rp. 100 trilyun. Bahkan pemerintah masih akan mendapat tambahan pemasukan dari setoran laba Pertamina karena dengan harga Rp. 9.000,- Pertamina akan meraup laba besar.
Lalu bagaimana dengan nasib rakyat miskin, para petani kecil, kaum buruh, nelayan, sopir angkot, dan lain-lain. Itu masalah yang mudah sekali diatasi. Bukankah pemerintah memiliki dana segar sebesar Rp. 100 trilyun? Banyak sekali yang bisa dilakukan dengan uang sebanyak itu.
Kita kupas satu per satu:
1. Masalah Pendidikan.
* Pemerintah bisa langsung menerapkan Wajib Belajar 12 tahun dan tentunya gratis mulai tahun depan.
* Jumlah beasiswa untuk mahasiswa miskin dan mahasiswa berprestasi bisa ditingkatkan.
* Masalah pendidikan selesai.
2. Masalah Transportasi.
* Harga jual BBM untuk kendaraan berplat kuning dan nelayan ditetapkan sebesar Rp. 3.000,-. Dengan demikian biaya transportasi untuk anak sekolah, buruh, karyawan, rakyat miskin dan ongkos angkut untuk sayur-mayur, tangkapan laut, produk pertanian, produksi pabrik dan lain-lain turun drastis.
Lalu bagaimana kalau sopir angkot bukannya cari penumpang tapi malah jualan bensin? Beli bensin sebanyak- Rp. 3.000,- dijual Rp. 8.000,- (di bawah harga pasar). Untung Rp. 5.000,- per liter tanpa keluar keringat daripada capek-capek narik cari penumpang. Lumayan kan ?
Gampang diatasi!
Mengontrol jumlah pembelian bensin.
Buat sistem terkoneksi antar SPBU khusus untuk pengawasan pembelian bensin oleh angkutan umum. Basis datanya adalah nomor plat. Jadi setiap melakukan pembelian, maka petugas SPBU harus merekam plat nomor beserta jumlah liter pembeliannya. Jadi setiap melakukan pembelian, akan diketahui jatah bensin yang masih bisa dibeli.
Misalnya jatah untuk satu mobil angkot per hari adalah 100 liter, maka jika angkot itu telah melakukan pengisian di SPBU A sebanyak 60 liter, maka jatah maksimal pembelian BBM di SPBU berikutnya tinggal 40 liter. Ini bisa dilihat melalui sebuah sistem online (software semacam ini sangat sederhana dan membuatnya adalah pekerjaan ringan bagi seorang programmer). Program ini juga otomatis akan memaksa SPBU melakukan kontrol ketat dalam penjualan BBM bersubsidi agar tidak mengalami kerugian.
Bagaimana mencegah sopir angkot menjadi penjual bensin daripada menarik angkot?
Bisa diatasi dengan teknologi barcode seperti yang lazim dipergunakan di supermarket. Untuk memastikan bahwa sopir angkot mengoperasikan mobil angkotnya,  di setiap atap mobil angkot di buat barcode. Mesin pembaca barcode diletakkan di atas pintu gerbang setiap terminal.
Sebagai contoh sebuah mobil angkot jurusan Senen-Kampung Melayu dengan kode barcode untuk nomor plat B 1234 AK. Setiap keluar masuk terminal Senen dan terminal Kampung Melayu maka secara otomatis mesin akan membacanya dan memberitahukan ke sistem bahwa angkot dengan nomor tersebut telah melintas. Jumlah kewajiban trayek disesuaikan dengan jatah bensin. Misalnya angkot dengan jatah bensin 100 liter maka dia wajib bolak-balik Senen-Kampung Melayu sebanyak 4 kali (8 kali perjalanan).
Bagaimana jika angkot mogok?
Ada toleransi tertentu bahwa sebuah angkot boleh mogok berapa kali dalam sebulan. Misalnya batasnya adalah 2 kali sebulan.
Lalu bagaimana jika angkot benar-benar mogok lebih dari 2 kali sebulan?
Itu adalah sebuah sinyal positif bahwa angkot tersebut sudah selayaknya diganti atau dijadikan besi tua.
3. Masalah Pertanian
Dana subsidi untuk pupuk dan pengadaan bibit unggul ditingkatkan. Ini akan mengangkat daya saing produk pertanian Indonesia. Nasib petani akan terangkat. Kesejahteraan yang meningkat membuat mereka dapat menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan meningkat berarti kemampuan meningkat. Anak-anak petani akan menjadi orang-orang pintar yang mampu membuka lapangan kerja. Pengangguran berkurang. Angka kriminalitas turun. Daya beli rakyat akan meningkat dan mereka akan mampu membeli barang-barang yang diproduksi oleh pabrik. Permintaan yang meningkat akan membuat pabrik meningkatkan produksi. Peningkatan produksi berarti membutuhkan lebih banyak tenaga kerja baru. Semua TKI di luar negeri ditarik kembali ke Indonesia. Justru tenaga kerja dari luar negeri yang akhirnya masuk ke Indonesia. Martabat Indonesia naik.
4. Kemacetan dan Polusi
Saya contohkan untuk kasus kota yang katanya paling rumit dan kompleks, yaitu Jakarta.
Mahalnya harga premium untuk kendaraan pribadi ditambah ongkos angkutan kendaraan yang sangat terjangkau  membuat paling tidak 50 persen kendaraan pribadi menghilang  dari jalanan. Yang tersisa hanya mobil dan motor milik orang-orang kaya yang mampu membeli premium dan punya hak lebih karena mereka membayar pajak lebih tinggi dan orang-orang sok kaya yang juga punya hak, yaitu hak mendapat hukuman berupa kekurangan uang dan hidup pontang-panting  karena nekat membeli bensin berharga mahal.
Jalanan lancar, pengiriman barang cepat dan tepat waktu membuat daya saing barang-barang dari Indonesia dapat bersaing di pasar internasional. Ekspor meningkat. Devisa masuk dalam jumlah besar. Polusi berkurang dalam jumlah yang tidak diperkirakan sebelumnya membuat udara Jakarta tiba-tiba bersih. Udara bersih membuat kesehatan penduduk Jakarta membaik.
Pengeluaran untuk berobat berkurang dan berubah menjadi pengeluaran untuk kebutuhan tersier seperti bertamasya ke kota lain di Indonesia. Medan, Bali, Yogyakarta, Raja Ampat, Lombok, Makasar, Ambon, dan kota-kota lain akan mendapat limpahan rupiah dari orang-orang Jakarta yang mampu mengangkat perekonomian setempat. Siklus kebangkitan ekonomi seperti yang terjadi di Jakarta terjadi di seluruh kota di Indonesia.
Bagaimana dengan ketersediaan angkutan umum?
Bukankah pemerintah memiliki dana segar ratusan trilyun? Dengan uang yang tersedia pemerintah bisa membeli 1000 bus baru untuk memperpendek daftar tunggu Bus Trans Jakarta di setiap shelter. Membeli kereta api baru dan menambah rangkaian gerbong, membuat rel ganda merealisasikan jenis MRT lain. Juga membuat subway (stasiun kereta api bawah tanah).
Lalu bagaimana dengan daya angkut mobil angkutan umum seperti mikrolet, metromini, kopaja, dan lain-lain?
Tidak perlu dikhawatirkan!
Kalangan swasta selalu lebih gesit dan lebih pandai membaca peluang daripada pemerintah. Perusahaan akan langsung mengajukan pinjaman ke bank untk pengadaan armada baru. Melihat jumlah penumpang yang melimpah ruah pihak bank akan menilai bahwa bisnis ini sangat porspektif. Kalangan perbankan tidak akan ragu-ragu mengucurkan kredit. Perekonomian berputar kencang. Angka pengangguran dan kriminalitas rendah. Dengan pemasukan yang diterima, pemerintah mengangkat sedikit pengangguran yang tersisa dari kalangan berpendidikan rendah menjadi tenaga kebersihan.
Kota Jakarta menjadi kota dengan udara bersih, lingkungan bersih dan teratur, lalu lintas lancar, aman dari tindakan kriminalitas  dan harga barang lebih murah. Persyaratan yang diperlukan untuk menarik datangnya wisatawan. Turis mancanegara berbondong-bondong mengunjungi ibukota membawa masuk devisa. Kembali pemerintah mendapat pemasukan besar. Karena rakyat sudah makmur kini pemerintah tinggal memikirkan kebutuhan tersiernya, yaitu olahraga dan militer.
Dukungan dana yang melimpah membuat prestasi olahraga Indonesia kembali disegani. Supremasi bulu tangkis dunia kembali direbut. Proyek 8 tahun lolos Piala Dunia sepakbola digarap serius. Pada tahun 2022 untuk pertama kalinya Indonesia lolos ke Piala Dunia.
TNI membeli berbagai jenis peralatan tempur dengan prioritas produk dalam negeri. Jika belum mampu diproduksi sendiri di dalam negeri, peralatan tempur diimpor dengan disertai perjanjian transfer teknologi. Pada akhir tahun 2016 Indonesia sudah memiliki 500 jet tempur canggih, 1000 MBT (Main Battle Tank) modern, 400 kapal perang baru dan 10 kapal selam. Tahun 2018 Indonesia sudah meluncurkan roket sendiri untuk memasang satelit terbaru rancangan bersama ITB, ITS dan BPPT. Tahun 2020 PLTN terealisasi dan ketergantungan PLN terhadap BBM menurun drastis.  Negara tetangga tidak berani lagi sembarangan mendikte atau membuat konfrontasi dengan Indonesia. Indonesia kembali diperhitungkan di dunia internasional.
Lalu apakah semuanya bisa semudah itu?
Memang semudah itu jika semua berjalan normal. Yang membuat itu semua susah terwujud adalah adanya orang-orang yang mencari popularitas murahan untuk menarik hati rakyat, menghambat pengadaan bus baru demi segepok uang untuk kepentingan pribadi, mengutip pungli dengan mempersulit perizinan angkot baru, orang-orang yang takut kehilangan penghasilan dari pungli yang dikutip dari angkot yang keluar masuk terminal, makelar yang selalu mencuri-curi kesempatan untuk mendapat uang mudah. Juga adanya pejabat yang susah membubuhkan tanda tangan dengan alasan biar kelihatan berwibawa atau takut pihak lain memperoleh keuntungan. Gambaran sebuah pribadi tanpa jiwa pengabdian.
Lalu siapa yang bisa mengatasi semua ini?
Sangat mudah. Kita hanya perlu mencari seseorang yang memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin. Pemimpin yang memberi ketauladanan dalam sikap dan mampu menginspirasi anak buahnya untuk bekerja keras dan tidak tergiur pada segala sesuatu yang bersifat instan seperti uang mudah dan popularitas murahan. Bawahan tidak mesti harus hebat seperti pemimpinnya, tetapi cukup menjalankan apa yang menjadi tugasnya tanpa memperlambat apalagi menghambatnya dengan dalih atau kepentingan apapun.
Lalu kriteria pemimpin seperti apa yang harus kita pilih?
Kriterianya adalah:
a. Pekerja keras.
Artinya mau bekerja keras dan mengorbankan waktu demi kepentingan rakyat. Bukan mengutamakan kepentingan diri sendiri, keluarga, golongan atau partainya.
b. Tidak suka mengambil uang negara untuk keuntungan pribadi.
Artinya tidak pernah terlibat atau terindikasi terlibat secara langsung ataupun tidak langsung dengan kasus korupsi.
c. Tidak menyukai birokrasi dan aturan protokoler berlebihan seperti penggunaan kendaraan pengawal.
Artinya dia mau ikut merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Merasakan sebalnya macet. Gerahnya udara jalanan yang panas. Muaknya merasakan berdesak-desakan setiap hari, dan lain-lain. Seorang pejabat yang selalu menggunakan pasukan pengawal kemanapun dia pergi itu karena hanya itulah satu-satunya hal yang bisa dia banggakan. Wibawa yang bisa dia tunjukkan adalah bahwa jika pergi dia menggunakan pengawalan untuk menunjukkan betapa pentingnya dia dan jabatan yang dia sandang.
d. Dekat dengan rakyat.
Artinya dia mau mendengar langsung dari mulut pertama apa saja permasalahan yang dihadapi rakyatnya. Bukan melulu berdasarkan data Biro Pusat Statistik, laporan para menteri koalisi yang pasti merasa prestasi kementeriannya layak mendapat acungan jempol, bawahan yang ABS, dan lain-lain.
e. Tidak ragu-ragu mengambil keputusan demi kemaslahatan bersama.
Artinya bukan pemimpin yang takut reputasinya turun karena menaikkan harga BBM. Lebih-lebih para pemimpin dan anggota parpol bunglon yang pura-pura membela kepentingan rakyat dengan menentang penaikan harga BBM padahal maksud yang sebenarnya agar mereka dipilih pada pemilu berikutnya.
Sekarang semua tergantung Anda, tergantung kita. Kitalah yang harus menemukan dan memilih Pemimpin dengan kriteria seperti di atas.
Pertanyaannya adalah:
Menurut Anda siapakah "orang itu" ???

2 komentar:

hikari tohari mengatakan...

cieee serius lho postingannya
ihihihi

WK-Wonosobo mengatakan...

Jangan-jangan yang baca akan tertawa lebih kenceng kalo aku bikin tulisan serius ya ...